Sekadar renungan


Bila Allah cepat makbulkan Doamu, Maka DIA Menyayangimu,

Bila DIA Lambat Makbulkan doamu, Maka DIA Ingin Mengujimu,

Bila DIA Tidak Makbulkan Doamu, Maka Dia Merancang Sesuatu Yang lebih Baik Untukmu.

Oleh itu, Sentiasalah Bersangka Baik Pada ALLAH Dalam Apa Jua Keadaan Pun... Kerana Kasih sayang ALLAH Itu Mendahului KemurkaanNya.

********************************************************

Saat itu, hadir syaitan yang terkuat, sementara si hamba dalam kondisi paling lemah. Siapakah yang selamat?


Ya Allah, jadikanlah amal terbaik kami sebagai penutup amal kami. Jadikanlah umur terbaik kami sebagai akhirnya. Dan jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari kami menjumpai-Mu
.


Sabda Nabi s.a.w ;"...dan sesungguhnya waktu yang paling syaitan dengan manusia adalah disaat kematian (nazak) ","(Riwayat Abu Na'im)" didalam sepotong ayat Mursyal , Nabi s.a.w bersabda dengan membawa maksud ," Saat paling hampir musuh Allah (syaitan) itu dengan manusia ialah dikala terbit rohnya".

There was an error in this gadget

ZIKIR HARIAN

HARI AHAD: Ya Hayyu Ya Qayyum ( 1000 X )
HARI ISNIN: La haula wala quwwata illa billa hil 'aliyyil 'a ziim ( 1000 X )
HARI SELASA: Allahumma salli 'ala 'abdika warasulika wanabiyyikal amiina wa'ala alihi wasahbihi wasallim ( 1000 X )
HARI RABU: Astagh firullahal 'a ziim ( 1000 X )
HARI KHAMIS: Subhanallahii 'a ziim , Subhanallahi wabihamdihi ( 1000 X )
HARI JUMAAT: Ya Allah ( 1000 X )
HARI SABTU: La ilaha illallah ( 1000 X )

Sedikit Ilmu untuk dikongsi bersama...



Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

Bacaan Surah

There was an error in this gadget

.

Followers

Blog ini mengandungi Maklumat dan Koleksi ibadah untuk diri saya . Sekiranya ia baik , kita kongsi bersama , sekiranya ianya tidak baik , elakkanlah. Saya hanya insan biasa yang mencari ilmu selagi hayat dikandung badan...

.

Wednesday, July 28, 2010

Lepaskan diri dari Cinta Dunia

Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar

"Akan datang masa di mana kamu diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk." Para sahabat bertanya, "Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulallah?" Rasulullah bersabda, "Tidak, bahkan saat itu jumlahmu sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kamu tertimpa penyakit 'wahn'." Sahabat bertanya, "Apakah penyakit "wahn" itu ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Penyakit "wahn" itu adalah terlalu cinta dunia dan takut mati."

Rasulullah yang mulia adalah contoh seorang pemimpin yang sangat dicintai umatnya; seorang suami yang menjadi kebanggaan keluarganya; pengusaha yang dititipi dunia tapi tak diperbudak oleh dunia karena beliau adalah orang yang sangat terpelihara hatinya dari silaunya dunia. Tidak ada cinta terhadap dunia kecuali cinta terhadap Allah. Kalaupun ada cinta pada dunia, hakikatnya itu adalah cinta karena Allah. Inilah salah satu rahasia sukses Rasulullah.


Apa yang dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadiid [57]:20)


Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah. Misalnya, salat, saum atau sedekah, tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah.

Sebaliknya, orang yang sibuk siang malam mencari uang untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslahatan umat -- bukan untuk kepentingan pribadi -- bukan untuk kepentingan pribadi terhadap Allah, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya, segala sesuatu yang membuat kita taat kepada Allah, maka hal itu bukanlah urusan dunia.

Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capek memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.

Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Oleh sebab itu, pencinta dunia itu tidak pernah merasa bahagia.


Rasulullah yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tetapi semua itu tidak pernah sampai mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah terpikir untuk berbuat aniaya.

Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah semata. Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, semakin tua, dan akhirnya mati. Kemudian terlahir manusia berikutnya, begitu seterusnya.

Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinan bahwa semuanya titipan Allah dan total milik-Nya, ia tidak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Sebaliknya, ia akan selalu siap titipannya diambil oleh Pemiliknya, karena segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah keberadaan atau tiadanya "dunia" ini meracuni hati kita. Jika memiliki harta dunia, jangan sampai sombong, dan jika tidak adanya pun, tidak perlu minder.

Kita harus meyakini bahwa siapa pun yang tidak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya. Mengapa? Sumber segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Wallahu a'lam.

Thursday, July 22, 2010

Sedekah Terbaik Adalah di Saat Senang


Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah: Sedekah bagaimanakah yang mendapat pahala yang besar?

Rasulullah menjawab: Sedekah disaat kamu sihat atau senang.

kerana sedekah disaat susah tidak ikhlas

kerana sedekah disaat tersebut kamu bersedekah

kerana takutkan kefakiran dan berharapkan kekayaan.

Janganlah kamu bersedekah disaat nyawa dihalkum.

Tidak berguna lagi kamu mewasiat untuk si fulan sebanyak ini dan untuk si fulan pula sebanyak ini.



Wednesday, July 14, 2010

Gunanya Kesusahan dan Kesukaran



Lihatlah kacang yang direbus dalam periuk. Kacang itu naik ke atas seolah-olah melompat apabila air periuk itu panas mendidih. Seolah-olah kacang itu berkata;

"Kenapa kau rebus aku?. Kamu beli aku, kemudian kamu siksa aku dalam periuk ini.....kenapa?".


Si suri rumah terus memukul dengan senduknya, lalu berkata;

"Diam engkau dalam kuali itu baik-baik. Jangan lari keluar. Aku rebus engkau bukan kerana benci, tetapi untuk menyelamatkan engkau. Engkau akan jadi makanan, dan akan menyerap jadi tenaga. Kesengsaraan yang engkau deritai itu bukanlah kezaliman. Tatkala engkau masih hijau dan segar dalam kebun, engkau minum air di sana. Minum air itu adalah demi untuk api.

Kasih sayang Allah mengatasi KemurkaanNya. Kerana CintaNya itu, kita dizhohirkan. Tujuan itu tidak dapat direalisasikan(disedari) jika sifat-sifat basyariyah kita tidak dibersih, dicuci, diubah dan dicanai terlebih dahulu.

Tanpa keinginan selera, darah dan daging tidak tumbuh. Kalau tidak tumbuh apa yang hendak di "makan" oleh Cinta Ilahi itu?. Engkau akan dicuci, dibersih, dicanai, barulah boleh mencapai Martabat Keruhanian Yang Tinggi.

  • Mula-mulanya engkau di bumi, wahai kacang!!!
  • Kemudian engkau dimakan.
  • Engkau dicerna oleh orang yang memakan engkau, lalu engkau menjadi tenaga - satu unsur kejiwaan.
  • Keadaan tumbuh-tumbuhan engkau hilang dan engkau masuk ke kehidupan kemanusiaan atau kebinatangan dan menyerap dalam hidup mereka.
  • Akhirnya kembali ke dalam Sifat-Sifat Allah.
  • Engkau lahir dari Sifat-Sifat Allah dan kembali ke dalam Sifat-Sifat Allah.


Engkau adalah sebahagian dari awan, matahari dan bintang. Kemudian engkau jadi hidup, tindakan, perkataan dan fikiran, melalui perubahan, peralihan yang semestinya diiring oleh penderitaan, kesusahan dan kesengsaraan.

Oleh itu benarlah kata-kata Sufi yang Syahid, al-Hallaj yang mengatakan;

"Bunuhlah aku wahai sahabat!!!.

Dengan mati itu akan akan hidup yang lebih baik".


Hidup baru mengganti hidup yang sekarang ini; dan hidup itu adalah lebih baik dan lebih indah dari hidup yang sekarang.



Dan betapa bermaknanya Firman Allah Taala;

"Oleh itu, maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan, (Sekali lagi ditegaskan): bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan." (Asy-Syar-h; 5,6)


Tuesday, July 13, 2010

Tanda Tanda Saat Kematian


100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.

60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.

40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.

7 hari : Mengidam makanan.

5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.

3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.

2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.

1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh and asar.

Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan).

Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan lagi bercakap-cakap.

******Bila Malaikat Mencabut Nyawa******

Baginda Rasullullah S.A.W bersabda:

"Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."


Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:

"Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."

Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut.Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata:

"Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T."

Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu
Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

"Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu.

Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."

Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata:

"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."

Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata:

"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata:

"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah."

Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T.


Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.

Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A:"Roh itu menuju ketujuh tempat:-

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya sampai hari Kiamat."

Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-

1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.

www.pekanrabu.com


Tanda-tanda nazak dan Amalan Sunat


Orang yang sakit tenat sebelum menghembuskan nafas terakhir kebiasaannya didatangi beberapa tanda yang ketara atau sebaliknya, di antara tanda-tanda tersebut ialah :

1.1 Tapak kakinya lurus

1.2 Hidungnya tunduk pucat tidak berpeluh

1.3 Sendi pergelangan tangan renggang

1.4 Keningnya luas tergonggong biji mata

1.5 Lidah kelu dan tertutup selera

1.6 Tidak mengecam sahabat-sahabat atau keluarga dengan penglihatan (kabur penglihatan)

1.7 Perubahan tabiat

1.8 Terlalu dahaga sentiasa minta air

1.9 Meminta sesuatu yang ganjil

2.0 Mata selalu tenung ke atas

2.1 Tidak ada timbal balik pernafasan.


Apabila terdapat beberapa tanda-tanda tersebut adalah disunat melakukan :

2.1 Ajar mengucap ditelinganya La ilaha illallah setelah ia mengucap, maka tidak perlu lagi diulangi melainkan jika ia diselangi pula dengan ucapan keduniaan.

Sabda Nabi s.a.w. maksudnya :
"Ajarkanlah orang yang hampir mati itu La ilaha illallah."

2.2 Membaca Surah Yaasin

Sabda Nabi s.a.w. maksudnya :
"Kamu bacakanlah Yaasin kepada orang yang hampir mati."

2.3 Titik air ke dalam mulutnya

Basahkan muka dan dadanya dengan air. Kerana Nabi s.a.w. ketika hampir wafat meminta semangkuk air dan membaca Surah Ikhlas, Surah al-Falaq dan Surah an-Nas, lalu dibasuh muka dan menyapu dadanya.


Iblis datang mengganggu ketika Sakratul Maut


Syaitan dan Iblis akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hinggalah ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat iaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan. Hadith Rasulullah SAW. menerangkan:

Yang bermaksud: “Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan syaitan di waktu maut.”

Rombongan 1

Akan datang Iblis dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat-lazat. Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Iblis itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.


Rombongan 2

Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.


Rombongan 3

Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan Kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan Kuda lumba (judi). Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.


Rombongan 4

Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya


Rombongan 5

Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan rayu-merayu “Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.” Maka dia pun sudi mengikut pelawaan itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal ia di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.


Rombongan 6

Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulamak-ulamak yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu.” Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali. Lalu datanglah pula Iblis yang menyerupai ulamak dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?” Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.” Berkata ulamak Iblis: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulamak yang tinggi dan hebat, baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi.

Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami.” Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis bagi tujuan mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulamak palsu: “Bagaimanakah Zat Allah?” Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena. Lalu berkata ulamak palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu.” Apabila tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.


Rombongan 7

Rombongan Iblis yang ketujuh ini Iblis terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat. Ketahuilah bahawa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlain di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut. Bersesuaian dengan sebuah hadith yang bermaksud: “Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”

jaipk.perak.gov.my

Tuesday, July 6, 2010

Zikir suatu Keperluan hidup



Di antara ayat-ayat al-Quran, firman Allah Ta’ala

Maka berzikirlah (ingatlah) kepadaKu, nescaya Aku akan mengingati kamu sekalian…..” (al-Baqarah: 152)

Berzikirlah (ingatlah) kepada Allah dengan sebutan zikir yang banyak.”

(al-Ahzab: 41)

Mereka yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri duduk dan sedang berbaring.” (al-Imran: 191)

“Dan apabila kamu telah selesai menunaikan sembahyang maka berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan sedang berbaring.”

(an-Nisa’: 103)

Berkata Ibnu Abbas: Maksud ayat di atas, hendaklah seseorang itu berzikir kepada Allah pada malam hari dan siangnya, di daratan dan di lautan ketika dalam pelayaran dan di dalam keadaan kaya dan miskin, sakit dan sihat, sama ada dengan suara rendah (dalam hati) mahupun dengan suara nyaring yang didengar oleh ramai.

Allah berfirman:

Berzikirlah pada Tuhanmu dalam dirimu (hatimu) dengan penuh perasaan rendah hati dan takut dan bukan dengan suara nyaring di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau sampai dikira orang-orang yang lalai.”

(al-A’raf: 205)

Allah berfirman lagi pada mencela orang-orang munafikin:

“Mereka itu tiada mengingati Allah melainkan sedikit sekali.”

(an-Nisa: 142)

Di antara Hadis-hadis yang membicarakan hal-hal ini ialah:

“Berfirman Allah azzawajalla: Aku sentiasa bersama hambaKu selagi ia mengingatiKu, dan selagi kedua kelopak bibirnya bergerak-gerak (kerana berzikir kepadaKu).”

Sabda Rasulullah s.a.w.:

“Barangsiapa yang ingin bersenang-senang di dalam taman-taman syurga maka hendaklah ia memperbanyakkan zikir Allah Azzawajalla.”

Apabila Rasulullah s.a.w ditanya: Mana satu amalan yang paling utama sekali?, baginda lalu menjawab:

“Iaitu apabila engkau menghadap maut sedangkan lidahmu lembut berzikir kepada Allah Azzawajalla.

Sabda Rasulullah SAW :

“Telah berfirman Allah Tabaraka Ta’ala. Andaikata hambaKu mengingatiKU dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatinya di dalam diriKu. Andaikata dia mengingatiKu di hadapan orang ramai, niscaya Aku akan mengingatinya di hadapan orang ramai yang lebih baik dari kumpulannya. Andaikata dia mendekatiKu sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta.”

Dari kata-kata atsar pula, berkata al-Hasan:

Zikir itu ada dua jenisnya: Berzikir kepada Allah Azzawajalla di antara dirimu dan antara Allah Azzawajalla. Alangkah baiknya ini dan besar pula pahalanya. Dan lebih utama dari itu ialah berzikir kepada Allah SWT pada ketika Allah mengharamkan sesuatu kepadanya.

Keutamaan majlis zikir.

Berkata Rasulullah s.a.w.

“Tiada sesuatu kaum pun yang duduk di dalam satu majlis sedang mereka berzikir kepada Allah Azzawajalla, melainkan para Malaikat berkerumun di sisi mereka dan rahmat akan mencucuri mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada sesiapa yang ada di sisinya.”

Keutamaan bertahlil.

Bersabda Rasulullah s.a.w.

“Sepenting-penting yang saya katakan, begitu juga para Nabi yang sebelumku ialah: Laa Ilaha Illallahu Wahdahuu Laa Sayariikalah (Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya),”

Bersabda Nabi s.a.w lagi:

“Barangsiapa mengucapkan: Laa Ilahaa Illallahu Wahdahuu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kullu Syai’in Qadir (Tiada Tuhan melainkan Allah, yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya kepunyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala kepujian dan dia Berkuasa atas segala sesuatu) setiap kali 100 kali Pahalanya sama seperti pahala memerdekakan 10 hamba sahaya, dan dicatitkan baginya 100 hasanah (keabaikan) dan dipadamkan daripadanya 100 saiyi’ah (keburukan).”

Keutamaan tasbih, tahmid dan zikir-zikir lain.

Bersabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa membaca subhaanallah selepas setiap sembahyang 33 kali, dan membaca Alhamdulillaah 33 kali dan membaca Allahu Akhbar 33 kali, kemudian mencukupkan bilangan 100 dengan Laailaha Illallaahu Wahdahu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Walahul hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli syai’in Qadir diampunkan dosa-dosanya.”

Rasulullah s.a.w bersabda lagi:

“Barangsiapa yang membaca: Subhaanallahi Wa Bihamdhi sehari 100 kali akan dileburkan segala kesalahan-kesalahannya.”

Rasulullah s.a.w bersabda lagi:

“Sebaik-baik pertuturan kepada Allah Ta’ala empat:

(1) Subhaanallah,

(2) Alhamdulilaah,

(3) Laa Ilaha Illallaah,

(4) Allaahu Akbar.

Tidak ada halangannya untuk memmulakan yang mana satu dari empat itu terlebih dulu.”

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi:

“Dua kalimah yang ringan disebutkan oleh lidah, tetapi amat berat dalam timbangan, juga amat dicintai oleh yang Maha Pengasih iaitu:

(1) Subhaanallaahi Wa Bihamdihi

(2) subhaanallahi ‘Azhiim.”

Rahsia Keutamaan zikir

Sekiranya ada berkata: Mengapa zikir kepada Allah itu, meskipun amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat mudah untuk dilakukan, menjadi lebih utama dan lebih berfaedah dari berbagai-bagai ibadat yang lain yang lebih berat dan sukar melakukannya. Ketahuilah bahwa untuk mentahkikkan (menerangkan) perkara ini tidak sempurna, melainkan dengan ilmu mukasyafah (ilmu penyingkapan). Tetapi di dalam ilmu mu’amalah tentang tingkatan zikir kepada Allah s.w.t. bahwasanya zikir yang menginggalkan kesan dan yang berfaedah ialah zikir yang dilakukan dengan tetap dan berterusan dengan hati yang hadir. Adapun bezikir dengan lidah sedangkan hati lalai yang hadir. Adapun berzikir dengan lidah sedangkan hati lalai tidaklah memberikan apa-apa kesan atau faedah, malah ditetapkan bahwasanya kehadiran hati dengan mengingati Allah s.w.t selalu atau pada kebanyakkan waktum ialah lebih dipentingkan dari segala ibadatnya, bahkan dengannya jugalah dapat dijamin terpeliharanya seluruh peribadatan; dan yang dinamakan buah atau hasil dari peribadatan amaliah.

Dan bagi zikir itu ada permulaannya dan ada pula pengakhirannya. Permulaannya menimbulkan kelapangan dalam diri serta kecintaan dan pengakhirannya yakni sesudah dilakukan zikir itu berkali-kali dan menjadi kelazimannya pula, dia tidak akan merasakan ketenangan dan kesenangan diri serta kecintaannya melainkan dengan berzikir. Itulah peringkat yang harus dituntut dalam berzikir.

Keutamaan berdoa.

Allah telah berfirman:

“Apabila hamba-hambaKu bertanya engkau tentang ZatKu, maka (katakanlah) Aku amat hampir, sentiasa memperkenankan permohonan orang yang bermohon ketika bermohon kepadaKu. Oleh kerana itu, hendaklah mereka berkenaan memohon kepadaKu.” (al-Baqarah: 186)

Allah berfirman lagi:

“Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan suara perlahan-lahan, sesungguhnya Dia (Allah) tiada suka kepada orang-orang yang melanggar batas.” (al-A’raf : 55)

Allah berfirman lagi:

“Dan Tuhan kamu telah berfirman: Mohonlah kepadaKu niscaya Aku memperkenankan permohonan kamu.” (al-Mu’minun: 60)

Berfirman Allah lagi:

Katakanlah: Berdoalah kamu kepada Allah atau berdoalah kepada ar-Rahman (Tuhan Pengasih) dengan nama yang mana pun kamu berdoa, (kerana) bagi Allah nama-nama yang terbaik.” (al-Isra’: 110)

Nabi s.a.w telah bersabda:

“Doa itu intinya segala ibadat.”

Nabi s.a.w bersabda lagi:

“Memohonkan kepada Allah Ta’ala dari kelebihan-kelebihanNya, sesungguhnya Allah Ta’ala suka jika Dia dimohoni, dan sebaik-baik ibadat itu menantikan kelapangan.”

Adab dan tertib berdoa

Dalam berdoa kepada Allah Ta’ala itu ada sepuluh adab iaitu:

(1) Sebaik-baiknya, ia memilih waktu-waktu yang mulia untuk memanjatkan doanya ke hadrat Allah Ta’ala. Misalnya di waktu wukuf di Hari Arafah setahun sekali, atau pada bulan Ramadhan di antara bulan-bulan yang lain. Atau pada hari Jum’at dari hari-hari yang lain dalam masa seminggu dan di waktu tengah malam dalam masa malam hari. Allah telah berfirman:

“Dan pada waktu-waktu tengah malam, mereka memohon keampunan.”

(as-Zariat: 18)

(2) Hendaklah ia mencari ketika dan keadaan yang baik, seperti masa berkecamuknya barisan-barisan hadapan pada sabiullah (peperangan untuk meninggikan syiar Allah), dan pada masa turunnya hujan lebat (di negara yang sukar dituruni hujan) dan pada masa mendirikan sembahyang-sembahyang fardhu dan sesudahnya dan masa-masa di antara azan dan iqamah, dan pada ketika bersujud dalam masa sembahyang. Pendekata dikira mulianya sesuatu waktu itu kembali kepada kemuliaan keadaannya. Misalnya di waktu tengah malam, ketika itu hati sedang dalam keadaan bersih suci dan ikhlas serta terjatuh daripada segala perkara yang meruncingkannya. Begitu juga waktu di Hari Arafah dan pada hari Jum’at, ketika itu seluruh perhatian sedang berkumpul dan hati sedang tolong-menolong pada mencapai kerahmatan yang menyeluruh dari Allah azzawajalla.

(3) Hendaklah menghadapkan mukanya ke arah kiblat ketika memohonkan sesuatu doa, mengangkat tinggi kedua belah tangan sehingga boleh terlihat bahagian ketiak, kemudian selesai berdoa, ia pun menyapu kedua belah tangan itu ke muka.

Berkata Umar Ibnul-Khattab r.a: Seringkali Rasulullah s.a.w ketika mengangkat kedua belah tangannya waktu berdoa tidak meleraikannya melainkan sesudah disapukan dengan kedua belah tangan itu kewajahnya.

Ibnul Abas pula berkata: Biasanya bila Rasulullah s.a.w berdoa dirapatkan kedua belah tapan tangannya dan dijadikan bahagian dalam tapak tangan itu bersetentangan dengan wajahnya. Demikianlah cara-cara tangan itu ketika dalam berdoa dan baginda tidak pula mengangkatkan pemandangannya ke arah langit.

(4) Hendaklah merendahkan suara antara perlahan dan kuat. Siti Aisyah berkata dalam memberikan penerangan tentang maksud ayat berikut:

“Dan janganlah engkau mengangkkat suaramu di dalam sembahyang dan jangan pula merendahkannya sangat.” (al-Isra’ 110)

Kata Siti Aisyah maksudnya ialah ketika membaca doa-doanya: Allah s.w.t telah memuji Nabi Zakaria a.s. dengan firmanNya:

Ketika ia menyeru Tuhannya dengan seruan perlahan-lahan.”

(Maryam: 3)

Firman Allah Ta’ala lagi:

Serulah Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan suara perlahan-lahan. (al-A’raf: 55)

(5) Janganlah sampai ia memaksa-maksakan dirinya dalam berdoa dengan bersajak-sajak. Sebaik-baiknya janganlah sampai malampaui doa-doa ma’tsurah (doa-doa yang dihafal dari Rasulullah s.a.w.) sebab dikhuatiri ia akan melampaui batas di dalam doanya, lalu ia meminta apa yang tak patut dimintanya. Perlu diketahui bahwa bukan semua orang pandai menyusun doa terhadap Allah s.w.t.

(6) Hendaklah ia berdoa dengan penuh perasaan rendah diri, penuh kekhusyukan, penuh harapan dan kecenderungan dan juga penuh ketakutan.

Allah telah berfirman:

“Serulah Tuhan kamu dengan merendah diri dan suara perlahan-lahan.” (al-A’raf: 55)

(7) Hendaklah bersikap tetap d dalam doanya dan meyakini bahwa doanya itu akan di kabulkan oleh Allah s.w.t. serta membenarkan harapannya itu. Dalam hal ini, Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Janganlah seseorang kamu berkata ketika berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Ampunilah aku jika Engkau menghendaki! Atau berkata: Ya Allah! Ya Tuhanku! Rahmatilah aku jika Engkau menghendaki Malah hendaklah menguatkan keazaman dalam doanya itu, kerana Allah tiada pernah di paksa atas pengabulan ( Penerimaan )doa.

Berkata Rasulullah s.a.w

“Bila seseorang kamu berdoa, hendaklah ia memperbesarkan permohonannya, sebab tiada sesuatu pun yang dianggap besar di hadrat Allah s.w.t.

Bersabda lagi Rasulullah s.a.w.

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu penuh keyakinan akan dikabulkan permintaan kamu itu dan ketahuilah bahwasanya Allah Azzawajalla tidak akan mengabulkan doa orang yang lalai hatinya.”

(8) Hendaklah ia bersungguh-sungguh dan jangan berputus asa dalam doanya. Dan sebaik-baiknya diulang-ulangkan sampai tiga kali, dan jangan sampai merasa terlalu lambat menerima pengabulan (Diterima Oleh Allah).

(9) Hendaklah ia memulakan doanya dengan sebutan nama Allah dan janganlah sekali-kali memulakan dengan permintaan dulu. Sesudah menyebut nama Allah disebut pula salawat atas Nabi SAW. dan menutup doanya juga dengan sebutan salawat atas Rasulullah SAW juga.

(10) Mengerjakan adab kebatinan dan itulah punca pengabulan dalam semua doa; iaitu bertaubat dan menghentikan segala macam penganiayaan serta menuju kepada Allah Azzawajalla dengan sepenuh hati dan perasaan. Yang demikian itu adalah sebab yang paling hampir kepada terkabulnya segala permintaan.

Keutamaan salawat atas nabi (s.a.w)

Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya mengucapkan salawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlan salawat ke atasnya (Nabi) dan berikanlah salam dengan sempurna-sempurna salam.” (al:Azhab: 56)

Berkata Nabi s.a.w.

“Barangsiapa yang mengucapkan salawat ke atas ummatku, dituliskan baginya sepuluh hasanah (kebaikan). Para sahabat bertanya: Bagaimana boleh kamu mengucapkan salawat ke atasmu. Berkata Rasulullah: Ucapkanlah Ya Allah! Ya Tuhanku! Kurniakanlah salawat (kerahmatan) ke atas hambaMu Muhammad dan ke atas keluarganya dan isteri-isterinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau mengurniakan selawat keatas Muhammad dan isteri-isterinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

Diriwatkan bahwasanya Saidina Umar Ibnul-Khattab r.a, apabila sampai kepadanya berita kewafatan Rasulullah SAW., terus meratap seraya berkata: Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu di sisi Tuhan telah sampai kemuncaknya sehingga dijadikan ketaatan kepadamu sama seperti ketaatan kepada Tuhan, sebagaimana firman Allah Azzawajalla:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, maka sebenarnya dia telah mentaati Allah.” (an-Nisa’: 80)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu di sisi Allah telah meningkat sampai Dia (Allah) memberitahukan engkau keampunanNya terhadapmu, sebelum Dia memberitahukanmu tentang dosamu. Allah berfirman:

Allah telah mengampunimu (Muhammad) mengapa engkau izinkan mereka (tinggal) tidak menurut pergi berperang.” (at-Taubah: 43)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu telah memuncak di sisi Allah, sehingga ahli neraka berangan-angan hendak mentaatimu (menurutmu), padahal mereka berada di lapisan-lapisan neraka disiksa mereka berkata (dalam firman):

“Aduhai alangkah baiknya jika kita dulu mentaati Allah dan mentaati RasulNya.” (al-Ahzab: 66)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika Musa dikurniakan oleh Allah batu yang memancar daripadanya matair-matair, maka adakah yang lebih menakjubkan lagi daripada jari-jemarimu, apabila terpancar daripadanya air, mudah-mudahan Allah merahmatimu.

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika sulaiman dikurnikan oleh Allah angin yang menerbangkannya sebulan perjalanan pergi dan sebulan pula perjalanan kembali, maka adakah yang lain lebih menakjubkan daripada Burak (kenderaan kilat) yang membawamu mendaki hingga langit ketujuh, kemudian kembali semula pada malam yang sama ke Abtah (Makkah) untuk bersembahyang subuh di situ pula moga-moga Allah merahmatimu.

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika Isa bin Maryam dikurniakan oleh Allah kuasa menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), maka adakah lain perkara yang lebih menakjubkan lagi daripada kambing yang beracun ketika ia berkata-kata denganmu, padahal ia telah menjadi daging yang sudah dipanggang. Bukankah rusuk kambing itu telah berkata kepadamu: Jangan makan aku kerana aku ini telah disira dengan racun.

Demi bapamu dan ibuku duhai Rasulullah! Meskipun amat pendek umurmu dan amat sedikit masa kepimpinanmu, akan tetapi orang-orang yang menurutimu lebih jauh bandingannya dengan orang yang menuruti Nuh, padahal amat lanjut umurnya dan amat panjang pula masa kepimpinannya. Sebenarnya orang yang mempercayai risalahmu amat banyak sekali, padahal orang yang mempercayai risalahnya amat sedikit pula. Engkau telah mengenakan pakaian bulu, mengenderai keledai dan membiarkan orang lain menunggang di belakangmu pula. Engkau meletakkan makananmu di atas tanah bila memakannya, kemudian engkau menjilat pula jari-jemarimu sesudah makan sebagai tanda rendah diri. Moga-moga Allah mengurniakan ke atasmu salawat dan salam.

Keutamaan istighfar (mohon keampunan)

Berfirman Allah azzawajalla:

“Dan mereka pada ketika melakukan keburukan ataupun menganiyai diri, mereka segera mengingati Allah, maka mereka pun meminta keampunan di atas dosa-dosa mereka.” (ali-Imran: 135)

Berfirman Allah SWT lagi:

“Barangsipa yang melakukan kejahatan ataupun menganiayai dirinya, kemudian ia meminta keampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampunan dan Maha Mengasihani.”

(an-Nisa’: 110)

Allah juga berfirman:

“Maka bertasbihlah dengan kepujian terhadap Tuhanmu dan mintalah keampunan, sesungguhnya Ia Maha Pengampunan.” (an-Nasr: 3)

Berfirman Allah lagi:

“Dan orang-orang yang memohn keampunan pada waktu tengah malam.”

(ali-Imran 17)

Allah SWT berfirman:

“Mereka itu sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu tengah malam itu mereka meminta keampunan.” (adz-Dzariat: 17-18)

Rasulullah SAW. sendiri sering memperbanyakkan sebutan:

“Maha Suci Engkau, ya Allah, ya Tuhanku! Aku memujiMu. Ya Allah, ya Tuhanku! Ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Mengasihani.”

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi:

“Barangsiapa memperbanyakkan memohon keampunan, niscaya Allah akan menukarkan segala kesulitannya menjadi kelapangan, dan segala kesempitannya diberikan jalan kelua, dan Dia akan memberinya rezeki tanpa terkira banyaknya”.

Berkata Rasulullah s.a.w.:

“Sesungguhnya aku sentiasa memohon keampunan kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepadaNya dalam sehari sebanyak 70 kali.”

Dalam istighfarnya, baginda Rasulullah sentiasa menyebut:

Ya Allah! Ya Tuhanku! Ampunilah aku terhadap semua dosa yang telah aku lakukan terdahulu dan kemudian yang tersembunyi dan yang terang, dan juga terhadap semua dosa yang Engkau Amat Mengetahui mengenainya. Engkaulah yang terdahulu dan yang terkemudian dan Engkau Berkuasa di atas setiap sesuatu.”

Dari al-Fudhail r.a katanya: Meminta keampunan tanpa berhenti dan membuat dosa adalah taubatnya para pendusta. Dan dari Rabi’ah al-Adawiah pula, katanya: Permohonan keampunan yang kami lakukan memerlukan kepada permohonan keampunan yang lebih banyak.

Adapun tentang wirid-wirid di pagi hari dan petangnya juga sesudah setiap sembahyang dan di waktu tengah malam, kami telah menyediakan bab yang tersendiri mengenainya. Bagi orang yang ingin mempelajarinya sila rujuk bab tersebut.

Tata-tertib tidur.

(1) Bersuci (berwudhu’) dan bersiwak

(2) Menyediakan penyuciannya (untuk wudhu’ atau tayamum) dan siwak, lalu berniat untuk melakukan ibadat di waktu bangun dari tidur nanti.

(3) Orang yang ingin mewasiatkan sesuatu untuk keluarganya jangan sampai tertidur, melainkan sesudah ditulis wasiat itu dan disimpan dibawah kepalanya sebab bukan mustahil ia boleh meninggal dunia di dalam tidur.

(4) Sebelum tidur, hendaklah terlebih dulu ia bertaubat dari segala dosa, bersih hati terhadap sekalian kaum Muslimin, tiada menyimpan dendam terhadap seseorang dan tiada berazam untuk melakukan maksiat kelak bila bangun dari tidur nanti.

(5) Hendaklah jangan terlalu mengambil berat sangat tentang tempat tidurnya supaya ia dari yang empuk dan halus.

(6) Jangan cuba tidur segera, selagi mata belum mengantuk dan jangan cuba memaksa-maksakan mata untuk tidur, kecuali jika bermaksud supaya senang bangun untuk beribadat di tengah malam.

(7) Hendaklah tidur berhadapan dengan kiblat.

(8) Hendaklah membaca doa-doa yang warid ketika hendak tidur. Di antaranya membaca doa-doa yang warid ketika hendak tidur. Di antaranya membaca Surah al-Ikhlas dan mu’ awwidzataini (Surah-surah al-Falaq dan an-Nas) dan sesudah baca, menyemburkan kedua tangan lalu menyapu dengan keduanya pada wajah dan seluruh tubuh. Selanjutnya boleh membaca pula Ayat Kursi dan membaca Subhaanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali juga.

(9) Hendaklah mengingat ketika mahu tidur, bahwa tidur itu adalah semacam mati, manakala bangun daripadanya semacam ba’ats. Dan hendaklah meyakini pula, bahwa manusia itu diwafatkan ats adat kebiasaannya sama ada di dalam hatinya mencintai Allah dan cinta untuk kembali kepadaNya ataupun bersarang di dalam hatinya kecintaannya dunia, dan kelak ia akan dibangkitkan seperti ketika diwafatkan.

(10) Berdoa ketika bangun dari tidur. Hendaklah ia dimulakan dengan:

“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah mematikan kami da kepadaNyalah kami akan dikembalikan”

Kemudian membaca ayat terakhir dari Surah al-Imran iaitu ayat 190 hingga akhir ata 200, sebanuak sepuluh ayat kesemuanya.

190 Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah menjadi keterangan bagi orang-orang yang mengerti.

191 Iaitu orang-orang yang mengingati Tuhan ketika berdiri duduk dan berbaring serta memikirkan tentang kejadian petala langit dan bumi sambil berkata: Duhai Tuhan kami! Tiadalah Engkau menjadikan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau peliharalah kami dari siksa api neraka.

192 Duhai Tuhan kami, Sesiapa yang engkau masukkan ke dalam api neraka itu, sebenarnya Engkau telah menghinakannya. Dan tiadalah orang-orang yang zalim itu mempunyai penolong.

193 Duhai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah mendegar penyeru yang mengajak untuk beriman. Berimanlah dengan Tuhanmu! Maka kami segera beriman. Duhai Tuhan kami ampunlah dosa-dosa kami dan tebuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkankanlah kami bersama-sama orang–orang yang baik.

194 Duhai Tuhan kami kurniakanlah kami-kami apa-apa yang kau janjikan kami menerusi para Rasul Engkau, dan janganlah engkau tidak akan memungkiri janji.

195 Maka tuhan telah memperkenalkan permohonan mereka bahawa aku (Tuhan) tidak akan mengsia-siakan amalan sesaorang yang beramal diantara kamu dari kaum lelaki mahupun perempuan, setengah kamu kepad setengah yang lain. Sebab itu orang yang berpindah negeri atau orang-orang yang diusir dari rumah-rumah mereka dan mereka dianiaya pada jalan Aku, mereka yang berjuang mati-matain dan terbunuh, niscaya Aku akan menebus mereka dari segala keburukan-keburukan mereka. dan akan aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dan balasan dari Allah dan pada Allah ada sebaik-baik pahala.

196 Janganlah engkau sampai terpengaruh tentang perubahan sikap orang-orang yang kafir dalam beberapa negeri.

197 Kesenangan yang sebentar (yang mereka rasakan), kemudian nanti akan disediakan bagi mereka tempat tinggal di Neraka Jahanam dan itulah tempat tinggal yang amat buruk.

198 Akan tetapi orang-orang yang patuh kepada Tuhannya akan memperoleh syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di situ. Mereka mendapat sambutan yang baik di sisi Allah, dan apa yang ada pada sisi Allah itu adalah baik bagi orang-orang yang baik.

199 Dan sesungguhnyaa orang-orang yang ahli kitab (Nasrani dan Yahudi) itu ada di antara mereka yang berimana kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan kepada mereka, mereka tunduk kepada Tuhan, tiada menukarkan keterangan-keterangan Allah dengan harga yang murah. Mereka itu memperoleh pahala dari Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah itu cepat perhitungannya.

200 Wahai orang-orang yang beriman bersabalah kamu serta anjurkanlah sabar kepada orang lain dan perteguhkanlah serta patuhlah kepada Allah, moga-moga kamu sekalian menjadi orang-orang yang beruntung.

Kemudian membaca pula subhaanallaah 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali, Allahu Akbar 10 kali dan Laa Illaaha Illallaah 10 kali.

Berkata Siti Aisyah r.a.: Biasanya Rasulullah s.a.w. ketika bangun di tengah malam, baginda memulakan sembahyangnya dengan bacaan:

“Ya Allah! Ya Tuhanku! Tuhannya Jibril dan Mikail dan Israfil, Tuhan Pencipta petala langit dan bumi, Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang terang. Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hambaMu tentang apa yang mereka perselisihkan. Oleh itu berikanlah aku petunjuk yang benar dari mana-mana yang di peselisihkan itu dengan izzinMu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

Kemudian baginda memulakan sembahyangnya dengan dua rakaat yang ringan dan sesudah itu barulah baginda bersembahyang terus dua rakaat, dua rakaat menurut kemahuannnya dan di akhiri dengan sembahyang witir kiranya baginda belum bersembahyang witir pada awal mala.

Dalam sembahyang tersebut kadang-kadang baginda membaca dengan suara tinggi dan kadang-kadang membaca perlahan-lahan saja. Kebanyakan riwayat yang sahih mengatakan sembahyang baginda di tengah malam itu ialah sebanyak 13 rakaat.

Wirid untuk orang beribadat semata-mata

Ketahuilah bahwa wirid-wirid dan zikir-zikir yang warid dan ibadat-ibadat yang ddibuat pada waktu malam dan siang itu, adalah sunnat yang dituntut bagi orang yang tidak mempunyai kerja lain selain beribadat. Orang itu kiranya bukan kerjanya beribadat dia tiada mempunyai kerja lain dan menganggur manakala semua waktunya terbuang sia-sia saja.

Adapun orang alim yang boleh memberikan manfaat kepada orang ramai dengan ilmunya seperti memberikan fatwa agama atau mengajar atau mengarang buku-buku, maka susunan wirid-wiridnya adalah berlainan dengan susunan wirid seorang abid atau orang yang kerjanya beribadat sepanjang masa. Orang alim itu memerlukan banyak masa lain untuk bermutalaah buku-buku dan memerlukan masa juga untuk mengarang buk-buku yang berfaedah. Kerja-kerja semacam ini tentulah memakan masa yang banyak. Oleh itu kalau semua masanya habis dalam kerja-kerja serupa itu, maka yang demikian itu aadlah lebih utama sesudah dikerjakan semua sembahyang-sembahyang yang fardhu dan sunnat-sunnatnya. Perkara ini telah saya sebutkan di dalam Kitab Ilmu Pengetahuan, mengenai keutamaan pelajaran dan pengajaran kerana dengan ilmu sajalah seseorang itu dapat mengamalkan zikir kepada Allah dengan sunguh-sunguh. Cubalah perhatikan apa yang difirmankan oleh Allah atau yang disabdakan oleh Rasulullah niscaya kita akan mendapati berbagai faedah dan manfaat bagi manusia yang boleh membimbingnya ke jalan akhirat.

Betapa tidak terkadang-kadang satu masalah saja yang dipelajari oleh seseorang pelajar boleh memberi manfaat untuk beribadat seumur hidupnya. Andaikata tiada dipelajari, tentulah segala amalannya itu akan menjadi sia-sia dan tidak berguna.

Adapun orang awam dan para penuntut maka hadirnya mereka di dalam majlis-majlis ilmu pengetahuan dan muhadharah-muhadharah agama adalah lebih utama daripada kerja berwirid semata-mata. Begitu juga dengan pekerja-pekerja yang memerlukan sara hidup untuk anak isteri maka tidak wajarlah baginya untuk menghabiskan semua masa kerana beribadat dan berwirid saja. Bahkan wiridnya dalam waktu bekerja itu ialah menghadirkan diri untuk bekerja di pasar-pasar ataupun mencari sara hiddup yang wajib, tetapi dalam pada itu janganlah sampai ia melupakan tuhan dan melupakan zikir kepadaNya di waktu pekerjaan dan mencari sara hidup itu.

Keutamaan bangun di tengah malam.

Bangun di tengah malam untuk beribadat memanglah menjadi perkara yang paling utama sekali. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan ini ialah ayat-ayat al-Quran berikut:

“Mereka meninggalkan tempat tidur kerana berdoa kepada Tuhan dengan perasaan penuh ketakutan dan penuh harapan, dan mereka membelanjakan dari rezeki yang Kami (Allah) kurniakan kepada mereka.” (as-Sajdah: 16)

Allah berfirman:

“Adakah orang yang merendahkan diri (kerana beribadat) selama beberapa masa di waktu malam.” (az-Zumar: 9)

Allah berfirman lagi:

“Dan mereka yang berbakti di waktu malam dalam keadaan bersujud dan berdiri.”

(al-Furqan: 64)

Berfirman Allah:

“Mereka itu sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan mereka memohonkan keampunan di sepanjang malamnya. Dalam harta benda mereka, ada ditentukan hak yang tertentu bagi orang yang meminta dan orang susah.”

(adz-Dzariat: 17-19)

Adapun Hadis-Hadis yang ada hubungannya dengan perkara yang dibicarakan ini ialah:

“Dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang hamba di tengah malam, adalah lebih utama daripada dunia dan seisinya.”

“Sesungguhnya ada suatu masa di waktu malam, yang jika ditemui oleh seorang hamba Muslim, lalu dia meminta sesuatu yang baik kepada Allah Ta’ala, niscaya Allah akan mengurniakan kebaikan itu kepadanya.”

Akhir seklai Rasulullah s.a.w pernah bersabda:

“Beribadatlah kamu di waktu malam, kerana ia adalah perilaku para salihin sebelum kamu.”

Sebab yang memudahkan beribadat di tengah malam.

Di antara sebab-sebab yang boleh menggalakkan seseorang untuk beribadat di tengah malam ialah:

(1) Jangan mengenyangkan sangat perutnya, sehingga ia tidak banyak minum pula. Kerana yang demikian itu akan menyebabkan ia terlalu mengantuk dan akan menjadi beratlah baginya untuk bangun beribadat di tengah malam.

(2) Hendaklah ia melazimkan tidur sebentar di siang hari, kerana yang demikian itu dapat menolong ia bangun di tengah malam.

(3) Hendaklah ia memahamkan dirinya tentang keutamaan beribadat di tengah malam dengan mempelajari ayat-ayat al-Quran dan Hadis-hadi yang menerangkan peri keutamaannya, sehingga keazaman menjadi kuat dan kecenderungan untuk mendapatkan pahalanya tersemat di dalam hati. Di waktu itu tentulah keinginan bangun di tengah malam akan berlonjak-lonjak untuk menuntut kelebihan pahala dan untuk mencapai tingkatan-tingkatan syurga yang tinggi.

(4) Beribadat di tengah malam itu adalah suatu pertanda yang mulia, kerana ia menunjukkan kecintaan hati terhadap Allah dan membuktikan betapa kukuh keimanannya. Sebab kerjanya di waktu malam itu tiada lain melainkan semata-mata kerana bermunajat kepada Tuhan, sedangkan Allah menyaksikan segala gerak-lakunya dan menyingkap segala isi hatinya. Dan ketahuilah, bahwa segala gerak-laku hati di waktu itu adalah datangnya dari Allah Ta’ala, seolah-olah Allah sedang berkata-kata dengannya. Andaikata ia tergolong orang yang dikasihi Allah Ta’ala, tentulah dia akan berminat untuk berkhalwat ditengah malam dengan Tuhannya, dan ia akan merasa amal lazat bermunajat, manakala kelazatan bermunajat itu akan menyebabkan ia semakin cenderung dan kuat untuk bangun beribadat di tengah malam.

Kenikmatan bermunajat dengan hukum akal dan naqal.

Tiada syak laagi orang yang bermunajat itu merasakan sepenuh kelazatan dan kenikmatan dalam munajat-munajatnya, kerana yang demikian itu dapat dibuktikan dengan hukum-hukum akal dan naqal.

Adapun dengan hukum akal dapat diumpamakan seorang yang mencintai seorang lain kerana kecantikannya, ataupun terhadap seorang raja kerana kemurahan hatinya dan kerana banyak harta yang dibelanjakannya. Dalam kedua-dua misal tadi, dapat dibayangkan betapa orang yang tercinta itu merasa nikmat bila dapat bertemu dan berkhalwat dengan orang yang dikasihinya dan tidak mustahil juga, dia akan merasa redha untuk bercumbu-cumbuan dengannya sepanjang malam, tanpa tidur oleh kerana terlalu mendalam cintanya terhadap orang itu.

Andaikata ada orang berkata: Memang benar itu, tetapi jika orang yang cantik atau kekasihnya itu dapat dilihat dengan mata secara berhadapan-hadapan, bagaimana pula dengan Zat Allah yang tidak boleh dilihat itu?

Ketahuilah, bahwasanya jika kekasihnya itu memang benar-benar dicintai, tidak mengapa walaupun ia berada di balik tabir. Ataupun jika ia berada di tempay yang gelap-gelita. Namun orang yang mencintainya itu tetap merasakan kenikmatan dengan semata-ata berada dekat dengannya, meskipun tanpa dapat melihat kekasihnya itu. Manakala hatinya akan merasa puasa dengan yang demikian itu dan tiada mengharapkan selain dari itu. Memadalah merasa kenikmatan dengan melahirkan cintanya itu terhadap kekasihnya dan cukuplah menyebut-nyebutkan dengan lidah ketika berdekatan dengannya sehingga perkara itu menjadi termaklum.

Andaikata orang itu berkata lagi: Mungkin orang yang bercinta itu menunggu jawaban kekasihnya, dan tentu seklai dia akan merasa senang bila mendengar jawabannya itu, sedangkan orang yang mencintai Allah, tidak mungkin mendengar percakapan (firman) Allah Ta’ala?

Ketahuilah, kiranya ia mengetahui bahwa kekasihnya itu (Allah) tidak akan memberi jawaban dan akan terus berdiam diri, tentulah ia masih merasa nikmat juga dengan mendedahkan segala hal-ehwalnya serta membukakan segala rahsia hatinya kepada Allah yang dikasihiNya itu. Betapa tidak! Kerana orang yang hatinya penuh kayakinan terhadap Allah Ta’ala akan merasa sesuatu perasaan tindak balas di dalam sanubarinya di waktu bermunajat kepada Allah, maka tentulah ia akan merasa nikmat itu.

Contohnya yang semisal ialah orang yang berkhalwat dengn raja di waktu malam seraya mendedahkan segala hajat dan keperluannya kepada raja itu, tentulah ia akan merasa gembira kerana dapat berdua-duaan bersamanya, dengan berharap pula akan mendapat pengurniaan daripada raja itu.

Ini adalah satu harapan kepada seorang raja akan memberinya pengurniaan secara terbatas saja. Apatah lagi jika harapan itu ditujukan kepada Allah Ta’ala tentulah tiada terbatas sama sekali, kerana apa yang diberikan oleh Allah itu lebih kekal dan lebih banyak manfaatnya daripada yang diberikan oleh manusia. Jadi bagaimana boleh dikatakan seseorang itu tidak akan merasa nikmat dengan mendedahkan segala keperluannya kepada Allah di dalam khalwat dan munajatnya?

Adapun menurut hukum naqal, maka halnya dapat disaksikan oleh orang-orang yang bangun di tengah malam itu sendiri, betapa mereka merasa nikmatnya beribadat di waktu itu. Betapa pula mereka merasakan malam yang panjang itu menjadi pendek, laksana seorang yang bercinta bertemu dengan kekasihnya di tengah malam, sehingga setengah mereja berkata kepada kekasihnya setangahnya: Bagaimana anda dengan malam anda? Dijawabnya: Tak pernah dapat aku meraikannya sama sekali. Ia menunjukkan mukanya sekejap lalu pergi semula, sehingga tak sempat aku hendak memerhatikannya sama sekali.

Berkata Ali bin Bakkar: Selama 40 tahun tak pernah ada sesuatu yang menyedihkan aku selain daripada terbitnya fajar.

Berkata al-Fudhail bin Iyadh: Setiap kali matahari terbenam aku merasa gembira dengan tibanya kegelapan malam, kerana ketika itu ake dapat berkhalwat dengan Tuhanku. Kemudian apabila matahari itu terbit semula, berdukacitalah aku kerana aku terpaksa berhadapan dengan orang ramai.

Berkata Abu Sulaiman: Orang-orang yang beribadat di tengah malam lebih menikmati dengan waktu malamnya daripada orang yang bersukaria dengan alat- alat yang memerdukan jiwa. Dan kalaulah tidak kerana adanya malam, niscaya aku tiada ingin hidup di dunia ini.

Yang lain pula berkata: Tiada sesuatu barang di dunia ini yang dapat menyerupai kenikmatan ahli syurga, kecuali apa yang dirasakan oleh orang yang menggantungkan hatinya dengan waktu malam, disebabkan kelazatan bermunajat kepada Allah.

Yang lain lagi berkata: Kelazatan bermunajat itu bukanlah berasal dari duni, tetapi ia berasal dari syurga yang dirasakan Allah kepada para walinya, dan tiada seorang pun selain mereka yang dapat merasakan keindahan bermunajat itu.

Berkata Ibnul Munkadir pula: Tiada lagi yang tinggal dari kelazatan dunia melainkan tiga saja: (1) Bangun kerana beribadat di tengah malam, (2) Bertemu dengan sahabat, dan (3) Bersembahyang dengan berjemaah.

Ada yang bertanya pula, dan aku menggunakan kesempatan dengan fajarnya bila ia terbit dan kini aku masih belum penuh gembira dengannya sama sekali.*

_________________________

* Untuk menguatkan perbahasan yang dibicarakan oleh pengarang dalam pelajaran-pelajarannya untuk umum kamu suka menyebutkan apa yang dikutip oleh pengarang dalam karangannya yang lain dari Ibnul Qaiyim ad-Dimasyqi dalam kitab “Ighatsatul-Lahfaan” bunyinya: Berkata Ibnul Qaiyim: Hakikat manusia itu adalah hatinya dan rohnya dan tiada sempurna bagi manusia itu melainkan sengan mentauhidkan Tuhannya, beribadat kepadaNya, takut kepada sisksaNya serta berharap penuh kepada rahmatNya. Itulah kemuncak kelazatan manusia. Kebahagiaannya dan kenikmatannya, kerana tiada sesuatu benda pun di dalam alam ini selain Allah azzawajalla, yang mana hati akan merasa tenang dan tenteram kepadaNya manakala diri akan merasa senang dan nikmat bila menuju kepadaNya. Hakikat iman dengan Allah itu sendiri serta kecintaan, peribadatan, kebesaran dan berzikir kepada Allah itu adalah makanan jiwa bagi manusia. Disitulah terletaknya kekuatan, kebaikan dan ketulusan hati, sebagaimana yang telah ditunjuk oleh Hadis dan al-Quran serta disaksikan oleh fitrah manusia sendiri. Bukan seperti yang didakwakan oleh orang yang kurang penelitannya, bahwasanya beribadat dan berzikir itu adalah suatu perintah yang berat untuk tujuan menduga manusia, ataupun untuk tujuan memberi pahala, ataupun kerana mendidik jiwa dan membiasakannya, agar ia dapat meningkat daripada darjat kebinatangan. Oleh itu dikatakan, bahwa beribadat kepada Allah, mengenal dan mentauhidkan ZatNya serta mensyukuriNya diumpamakan sebagai cahaya mata manusia dan sebaik-baik nikmat yang boleh dirasakan oleh roh dan seluruh anggota. Bukanlah maksud dari ibadat dan perintah itu untuk menyusahkan dan memberatkan, sebagaimana yang diambil dari maksud pertama tadi, walaupun sebenarnya dalam menjalankan terdapat semacam keberatan, tetapi itu sudah menjadi semacam kelaziman. Oleh kerana itu maka segala perintah Allah s.w.t. dan kewajiban-kewaiban yang dibebankan ke atas hamba-hambaNya, dan juga syariat-syariatNya yang ditentukan ke atas mereka itu adalah sebagai cahaya mata dan kelazatan hati serta kenikmatan roh dan kegembiraannya. Padanya terselit kebahagian dan kemenangan serta kesempurnaan manusia dalam urusan dunia dan akhiratnya. Malah tiada kebahagiaan dan tiada kenikmatan yang hakiki, melainkan dengan semua itu sebagaimana Allah telah berfirman:

“Wahai sekalian manusia, sesunguhnya telah datang kepada kamu nasihat daripada Tuhan kamu serta penawar bagi hati yang di dalam dada, juga petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mu’minin. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itu adalah lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 57-58)

Berkata Abu Said al-Khudri: Yang dimaksudkan dengan kurnia Allah itu ialah al-Quran dan rahmatNya, bahwa Dia (Allah) telah menjdikan kamu dari ahli al-Quran. Demikianlah kebanyakan pendapat para ulama yang lain, kesemuanya telah menafikan bahwa perintah-perintah Allah, kewajiban-kewajiban serta syariat-syariatNya sebagai bebanan ke atas manusia, sebab Allah Ta’ala telah berfirman:

“Allah tiada membebankan ke atas diri manusia, melainkan sekadat keampunannya.”

(al-Baqarah: 286)

Firman Allah ini telah membuktikan penafian bebanan ke atas manusia dan Allah tiada menamakan perintah-perintah wasiat-wasiat dan syariat-syariatNya, sebagai bebanan, malah dinamakannya sebagai rohani, nurani, penawar dan ubat, petunjuk, rahmat, kehidupan, perjanjian wasiat dan sebagainya dalam firman-firmanNya.

Pembahagian Waktu Malam

Menghidupkan malam, yakni memenuhkan waktu-waktunya dengan amalan-amalan ibadat ada tujuh peringkatnya:

(1) Menghidupkan sepanjang waktu malam. Yang dapat memenuhinya ialah orang-orang yang kuat keazamannya yang benar-benar telah menetapkan dirinya untuk beribadat kepada Allah azzawajalla. Kerjanya itu menjadi semacam makanan bagi jiwa dan kehidupan bagi hati. Sebab itu mereka tidak merasa letih atau lelah untuk beribadat di sepanjang malam, manakala tidurnya ditukarkan pada waktu siang pula. Dikatakan ada sebanyak 40 tabi’in terkenal dengan amalannya dalam cara ini.

(2) Bangun untuk beribadat separuh dari malam.

(3) Bangun untuk beribadat dalam sepertiga masa dari separuh malam yang terakhir.

(4) Bangun untuk beribadat dalam seperenam malam yang terakhir atau seperlimanya.

(5) Tidak menurut cara-cara yang telah lalu, dia tidur kemudian bangun malam pada masa-masa yang tidak tetap waktunya.

(6) Bangun malam setakat cukup untuk melakukan sembahyang empat rakaat ataupun dua rakaat saja.

(7) Kiranya memang sukar baginya untuk bangun malam, maka hendaklah jangan sampai terlalai terus, sehingga masuk waktu subuh, ia masih di atas tempat tidur juga. Tetapi sekurang-kurangnya, hendaklah ia bangun ketika masuk waktu subuh atau waktu orang bersahur.

Adapun bangun di waktu malam yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. maka caranya tidaklah tetap dalam tertib yang sama, tetapi ada kalanya baginda separuh malam dan adakalanya sepertiga malam dan ada kala dua pertiga malam dan ada juga seperenam malam saja, dan hal itu berbeda antara satu sama yang lain. Perkata ini dipandukan kepada ayat al-Quran dalam dua tempat, iaitu:

“Sesungguhnya Tuhanmu Mengetahui bahwa engkau bangun (mengerjakan sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, ada pula separuhnya dan sepertiganya.” (al-Muzammil: 20)

Perkataan kurang dari dua pertiga malam dalam ayat di atas itu, seolah-olah maksudnya ialah: Separuhnya dan separuh dari seperenamnya. Jika kalimat wanisghfahuu watsulutsihii, maka maksudnya ialah: Separuh dari dua pertiga dan sepertiga dari dua pertiga, jadi hampir mendekati sepertiga dan seperempat. Jika kalimat di atas itu diberikan baris fathah (atas) maka maksudnya ialah: Separuh malam dan sepertiganya.

Berkata Siti Aisyah r.a.: Rasulullah s.a.w. bangun dari tidur apabila baginda mendengar kokokan ayam, dan ini maknanya seperenam malam atau kurang sedikit daripadanya.

Zikir-zikir yang amat penting untuk dijadikan amalan