Monday, July 29, 2013
Ucapan Istirja’
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innalillaahi wa inna ilayhi raaji’uun atau (“Kita ini milik Allah, dan kepadaNya kita kembali”)
“kita ini milik Allaah”
- Ketika kita mengakui bahwa kita adalah
milikNya, maka hendaknya kita sadar, bahwa Allah berhak memerintah dan
melarang kita; baik kita suka maupun tidak suka.
Maka orang yang mengetahui ucapan ini, seharusnya akan ridha dengan
perintah dan laranganNya; tidak mengingkarinya, tidak pula “mencari
jalan tengah” yaitu dengan memadukannya dengan hawa nafsunya, agar
perintah dan larangan tersebut disesuaikan dengan hawa nafsunya.
- Ketika kita mengakui bahwa kita adalah
milikNya, maka hendaknya kita sadar, bahwa kita harus bersabar dalam
meninggalkan apa-apa yang dilarangNya.
Maka setelah ia tahu konsekuensi akan hal ini, maka ia akan
termotivasi untuk tahu segala apa yang dilarangNya, tentu dengan
MENUNTUT ILMU. Kita mencari tahu larangan-laranganNya agar ia tidak
terjerumus kedalamnya sedangkan ia tidak sadar; dan setelah ia tahu,
maka ia akan menghindari dan meninggalkannya; dan tetap bersabar dalam
meninggalkannya.
- Ketika kita mengakui bahwa kita adalah
milikNya, maka hendaknya kita sadar, bahwa kita harus besabar dalam
mengerjakan apa-apa yang di-wajibkanNya.
Demikian pula sebagaimana hal diatas… Pengucapnya yang mengetahui hal
ini, maka akan termotivasi untuk mencari tahu segala kewajiban yang
wajib ia tunaikan, tentunya dengan MENUNTUT ILMU. Agar ia dapat tahu
kewajiban apa yang harus ia laksanakan, dan agar ia tidak meninggalkan
kewajiban tanpa sepengetahuan kita. Setelah ia tahu tentangnya, maka ia
mengerjakannya, dan bersabar untuk tetap mengerjakannya.
- Ketika kita mengakui bahwa kita adalah
milikNya, maka hendaknya kita sadar, bahwa diri kita, demikian pula
harta kita dan keluarga kita (orang tua, saudara/i, serta istri dan
anak) juga adalah milikNya.
Maka pengucapnya harusnya dapat mendatangkan ridha dengan segala ketetapanNya atas diri, harta dan keluarganya.
Ketahuilah… apapun yang ditetapkanNya, adalah kebaikan (dengan segala hikmah dibaliknya); meskipun kita memandangnya “buruk”.
Ketahuilah Allah Maha Tahu, jadi jangan kita merasa lebih tahu
daripada Allah. Ketahuilah Allah Maha Bijaksana, jadi jangan kita merasa
lebih bijaksana dari Allah.
Dan ketahuilah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu; sedangkan kita
tidak memiliki kekuasaan atas apa yang menjadi milikNya, termasuk pula
diri kita, kita ini milikNya. Maka hendaknya kita bertawakkal kepadaNya,
ridha serta sabar dengan ketetapanNya.
Demikian pula, ketika kita mendapatkan nikmat; ketahuilah bahwa
nikmat ini bukan dari usaha kita sendiri, tapi dari pertolongan Allah;
dan juga ini semua adalah dariNya; maka ini semua pada hakekatnya adalah
milikNya. Maka janganlah kita merasa bahwa ini adalah semata-mata usaha
kita, atau merasa harta ini adalah hanyalah milik kita semata
(melupakan sang pemilik sebenarnya); sehingga kita lupa untuk
menyisihkan sebagian dari kenikmatan yang sudah Dia berikan kepada kita
di jalanNya… Kalaupun memang membelanjakannya, maka hendaknya paling
tidak kita hanya membelanjakannya dalam hal-hal yang diridhaiNya saja,
bukan untuk memaksiatiNya.
“…dan kepadaNya kita kembali”
Maka ketahuilah:
Jika kita tidak mau mengikuti perintah/larangan Allah, atau/dan tidak
ridha dengan ketetapanNya; maka ketahuilah kepadaNya-lah kita kembali;
Dialah yang akan membalas perbuatan kita tersebut; sudah disediakanNya
adzab ketika sakratul mawt, adzab kubur, adzab ketika hari hisab, serta
adzab neraka yang amat pedih bagi hambaNya yang menyombongkan diri
kepadaNya.
Sebaliknya, jika kita taat kepadaNya, kita berusaha mencari tahu
perintah dan laranganNya, kemudian kita taat kepadaNya (dengan
menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya), dan
tetap bersabar untuk taat kepadaNya hingga wafat; maka Allah menjanjikan
untuknya kebaikan-kebaikan; Dia telah menjanjikan kepada kita,
kemudahan ketika nyawa kita diambilNya, nikmat kubur, dimudahkan ketika
hisab (bahkan kita bisa termasuk orang yang diselamatkan dari hisab dan
adzab dihari hisab), dan dimasukkan kedalam surgaNya; sebagai balasan
atas orang-orang yang bertaqwa kepadaNya.
Demikian pula, dia telah menyediakan pahala tanpa batas kepada
hamba-hambaNya yang sabar atas segala ketetapanNya, dan juga dia telah
menjanjikan pahala yang melimpah terhadap hamba-hambaNya yang bersyukur
kepadaNya. Sebaliknya, barangsiapa yang murka kepada ketetapanNya, maka
Dia Murka terhadap orang tersebut!
Demikian pula barangsiapa yang diberikanNya nikmat, maka Dia adalah
Dzat Yang Maha Mensyukuri… Dia telah menyediakan berbagai balasan yang
baik bagi hamba-hambaNya yang bersyukur. Dengan apa hambaNya bersyukur?
(Dengan beriman kepadaNya, mentauhidkanNya, berpegang teguh diatas
ketaatan serta menjauhi segala kemungkaran baik itu kesyirikan,
kekufuran, kebid’ahan, maupun kemaksiatan). Sebaliknya, Dia akan
mengancam orang yang kufur atas nikmatNya yang mempergunakan nikmatNya
(nikmat hidup, sehat, serta berbagai nikmat lain) dalam rangka
kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan maupun kemaksiatan.
Maka sudahkah kita mengetahui dan merenungkan akan konsekuensi ucapan ini?
Semoga bermanfaat
abuzuhriy.com
Larangan Bicara Tanpa Ilmu
Allah (سبحانه وتعالى) berfirman,
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ
وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ
يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh
lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung,” (An-Nahl: 116).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ( رضي الله عنه ) Rasulullah (ﷺ) bersabda,
“Barangsiapa diberi fatwa tanpa ilmu maka dosanya adalah atas orang
yang memberi fatwa tersebut. Barangsiapa menganjurkan satu perkara
kepada saudaranya seagama sementara ia tahu bahwa ada perkara lain yang
lebih baik berarti ia telah mengkhianatinya.”
(Hasan, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (59), Abu Dawud (3657),
Ibnu Majah (53), Ahmad (321 dan 365), ad-Darimi (1/57), al-Hakim
(1/102-103), al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiib wal Mutafaqqih
(11/155)).
Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata,
“Aku mendengar Ibnu ’Abbas ( رضي الله عنه ) menceritakan tentang
seorang laki-laki di zaman Nabi (ﷺ) yang terluka pada bagian kepalanya,
kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun
mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah
beritanya kepada Rasulullah (ﷺ), maka beliau bersabda, ‘Mereka telah
membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka. Bukankah bertanya
merupakan obat kebodohan’?”
(Shahih, HR Ibnu Majah (572), ad-Daraquthni (1/190/4), al-Hakim
(1/178), ath-Thabrani (11472), Abu Nu’aim dalam al-Hilyab
(111/317-318)).
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ( رضي الله عنه ) berkata,
“Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang
tidak tahu hendaklah mengatakan, Allaahu a’lam. Sebab termasuk ilmu
adalah mengatakan, ‘Aku tidak tahu’ dalam perkara yang tidak ia ketahui
ilmunya.” Sebab Allah (سبحانه وتعالى) berfirman kepada Nabi-Nya,
“Katakanlah (hai Muhammad), (Aku tidak meminta upab sedikitpun ke-padamu
atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang
mengada-adakan,” (Shaad: 86).
Kandungan Bab:
1. Seorang mufti berbicara atas nama Allah, maka hendaklah ia berhati-hati agar tidak berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
Oleh sebab itu Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab I’laamul
Muwaqqi’iin ’an Rabbil ’Aalamiin (1/7-8), “Apabila kedudukan sebagai
juru bicara raja merupakan kedudukan yang sangat terhormat, semua orang
tahu kemuliaannya dan merupakan kedudukan yang paling tinggi, lalu
bagaimanakah pula kedudukan (sebagai) juru bicara Raja langit dan bumi
(سبحانه وتعالى)? Orang yang diangkat sebagai juru bicara Allah haruslah
mempersiapkan diri sebaik-baiknya, ia harus menyadari betapa agung
kedudukannya tersebut.
Janganlah dadanya merasa berat untuk mengatakan kebenaran dan
menyatakannya. Karena sesungguhnya Allah menolongnya dan menunjukinya.
Bagaimana tidak, itulah kedudukan yang Allah sendirilah yang
menanganinya, Dia berfirman, “Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang
para wanita. Katakanlah, ’Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka,
dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an’,” (An-Nisaa’: 127).
Cukuplah sebagai bukti kehormatan dan kemuliaan tugas tersebut bahwa
Allah (سبحانه وتعالى) sendirilah yang menanganinya. Allah (سبحانه
وتعالى) berfirman, “Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah,
Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah’,” (An-Nisaa’:
176).
Hendaklah seorang mufti mengetahui siapakah yang ia wakili dalam
fatwanya. Dan hendaklah ia sadari bahwa ia akan dimintai
pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah (سبحانه وتعالى).
Oleh sebab itu para ulama Salaf sangat takut mengeluarkan fatwa.
Mereka sadar betul kedudukannya serta bahayanya bila memang tidak mampu.
Mereka tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tidak mau
mengeluarkan fatwa hingga mereka anggap sudah layak untuk berfatwa.
Namun mereka lebih suka dilepaskan dari tugas tersebut.
Diriwayatkan dari ’Abdurrahman bin Abi Laila berkata,
“Aku telah bertemu dengan seratus dua puluh orang sahabat Nabi dari
kalangan Anshar, tidaklah salah seorang dari mereka ditanya tentang
suatu masalah melainkan ia berharap temannya yang lainlah yang
menjawabnya,”
(HR Ad-Daarimi (53), Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqaat (VI/110), Ibnul
Mubarak dalam az-Zuhd (58), al-Fasawi dalam kitab al-Ma’rifah wat
Taariikh (II/817-818)).
2. Oleh karena itu hendaklah orang-orang jahil menjauhi kedudukan ini,
khususnya dari kalangan fuqaha dan orang-orang yang mengaku berilmu,
namun sebenarnya tidak punya ilmu; yang cepat sekali mengeluarkan fatwa
karena takut dibilang bodoh atau karena ingin mendapat perhatian dalam
majelis.
3. Ketahuilah wahai hamba Allah, mengeluarkan fatwa berarti
engkau telah berbicara atas nama Allah tentang perintah dan larangan-Nya.
Dan engkau akan ditanya dan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh sebab
itu, bila engkau ditanya tentang suatu masalah maka jangan pikirkan
keselamatan si penanya, namun pikirkanlah dulu keselamatan dirimu. Jika
engkau mampu menjawabnya, maka jawablah! Jika tidak mampu, maka lebih
baik diam. Sebab, menahan diri dalam kondisi seperti itu lebih selamat,
lebih bijaksana dan lebih menunjukkan kedalaman ilmumu!
Wahai para mufti, periksalah benar-benar fatwa yang engkau keluarkan.
Engkau telah membawa dirimu kepada perkara yang sangat berbahaya,
janganlah engkau keluarkan fatwa kecuali bila keadaan sangat darurat.
Suatu hari, al-Qasim bin Muhammad pernah ditanya lalu ia menjawab,
“Allahu a’lam.” Kemudian ia berkata, “Demi Allah, lebih bagus seseorang
itu hidup jahil, setelah mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, daripada
mengatakan apa yang tidak ia ketahui,” (Shahih, HR ad-Darimi (1/48),
Abu Khaitsamah dalam kitab al’llmu (90), al-Khathib al-Baghdadi dalam
al-Faqiih wal Mutafaqaih (11/173), dan al-Fasawi dalam kitab al-Ma’rifab
Taariikb (1/546-547)).
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy
Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi
Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari
(Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/234-238.
http://alislamu.com/index.php?Itemid=67&id=1253&option=com_content&task=view
Fatwa Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullåh mengenai berfatwa tanpa ilmu
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullåh ditanya:
“Ditemui adanya sebagian orang yang berfatwa tanpa (berdasarkan) ilmu. Bagaimana hukum hal tersebut?”
Beliau rahimahullâh menjawab:
Tindakan ini termasuk perkara yang paling berbahaya dan paling besar
dosanya. Allah ‘Azza wa Jalla mensejajarkan ucapan tentang Allah tanpa
ilmu dengan perbuatan syirik.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا
بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى
اللهِ
مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik
yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan
(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui.” (Al-A’râf: 33)
Hal ini menyangkut ucapan tentang Allah dalam masalah dzat-Nya,
sifat-sifat, perbuatan-perbuatan ataupun syari’at-Nya. Jadi tidak
seorang pun dihalalkan memfatwakan sesuatu sampai dia tahu bahwa hal
tersebut adalah syari’at Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka ia harus memiliki kelengkapan (persiapan) dan kemampuan sehingga
dengan hal itu ia dapat mengetahui apa-apa yang ditunjukkan oleh
berbagai dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam. Tatkala itulah ia (boleh) berfatwa.
Seorang mufti (orang yang berfatwa) adalah orang yang berbicara
tentang Allah ‘Azza wa Jalla dan orang yang menyampaikan tentang
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka jika ia mengucapkan suatu
perkataan, sedangkan ia tidak mengetahui atau kurang meyakininya,
setelah ia mentelaah, berusaha keras dan memikirkan dalil-dalilnya, bisa
jadi orang ini telah mengucapkan tentang Allah dan Rasul-Nya tanpa
ilmu. Ia harus bersiap-siap untuk memperoleh hukuman dari Allah.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ
بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ . أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى
لِلْكَكَافِرِينَ
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang
mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak
tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam
itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (Al-‘Ankabût: 68)
Syaikh Al-Utsaimin ditanya:
“Banyak orang yang berani berfatwa sampai anak kecil pun bisa berfatwa. Lalu bagaimana komentar Anda?”
Beliau rahimahullâh menjawab:
Kaum salaf dahulu mereka saling dorong-dorongan (saling menolak)
untuk mengeluarkan fatwa lantaran besarnya perkara ini, besarnya
tanggung jawab dan lantaran takut mengucapkan tentang Allah tanpa ilmu.
Karena mufti (orang yang berfatwa) adalah orang yang menyampaikan
tentang Allah dan menjelaskan syari’at-Nya. Jika ia berbicara tentang
Allah tanpa ilmu, maka dia akan terjerumus ke dalam perkara yang
merupakan saudara kandung dari perbuatan syirik.
Simaklah firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا
بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ
مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik
yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan
(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui.” (Al-A’râf: 33)
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mensejajarkan berkata tentang-Nya tanpa
ilmu dengan perbuatan syirik. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ . إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isrâ’: 36)
Seseorang seyogyanya tidak terburu-buru dalam berfatwa. Bahkan (yang
seharusnya) ia harus menunggu dan menimbang (baik buruknya) serta
mengkaji ulang (masalah yang difatwakan). Jika waktunya sempit maka ia
bisa melimpahkan masalah tersebut kepada orang yang lebih mengetahui
(berilmu) sehingga ia selamat dari berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
Jika Allah mengetahui keikhlasan niatnya dan kehendaknya yang baik,
maka ia akan sampai pada kedudukan yang ia inginkan dengan fatwa
tersebut. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Dia ‘Azza wa Jalla
akan memberikan taufiq kepadanya dan meninggikannya.
Orang yang berfatwa tanpa ilmu lebih sesat dibandingkan orang jahil
(bodoh). Orang yang bodoh akan menyatakan, “Saya tidak tahu.” Ia
mengetahui kapasitas dirinya, ia berpedoman pada kejujuran.
Adapun orang yang mensejajarkan dirinya dengan para alim ulama (lebih
dari itu) bahkan menganggap dirinya lebih utama dari mereka, maka ia
akan sesat dan menyesatkan. Ia akan berbuat kekeliruan dalam
masalah-masalah yang bisa diketahui kekeliruannya oleh penuntut ilmu
yang masih yunior sekalipun. Tindakan ini besar sekali kejelekannya dan
besar pula bahayanya.
Syaikh Al-‘Utsaimin ditanya: “Tatkala terluncur suatu pertanyaan yang
berhubungan dengan syari’at agama, orang-orang awam saling berlomba,
contohnya bila mereka berada di suatu majelis, untuk berfatwa dalam
masalah tersebut tanpa dilandasi dengan ilmu. Apa komentar Anda terhadap
fenomena ini, apakah tindakan tersebut termasuk mendahului Allah dan
Rasul-Nya?”
Beliau rahimahullâh menjawab:
Sudah dimaklumi bahwa seseorang tidak diperkenankan bicara tentang
agama Allah tanpa ilmu, berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا
بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ
مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik
yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan
(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui.” (Al-A’râf: 33)
Setiap orang wajib menjauhkan diri dan merasa takut mengatakan
tentang Allah tanpa ilmu, sebab hal tersebut bukan termasuk perkara
duniawi yang akal bisa berperan di dalamnya. Jika perkara itu adalah
perkara duniawi yang akal bisa berperan di dalamnya, seseorang
sepatutnya menunggu (tidak tergesa-gesa) dan hendaknya memikirkan
(terlebih dahulu).
Boleh jadi jawaban yang tersimpan dalam jiwanya akan dijawab oleh
orang selainnya sehingga ia seperti layaknya seorang hakim (pembuat
keputusan) di antara sekian orang yang menjawab (pertanyaan yang
terlontar) sehingga ucapannya adalah ucapan terakhir yang (paling)
menentukan. Betapa banyak apa yang diperbincangkan oleh manusia dengan
berbagai pandangan mereka -yang saya maksudkan adalah bukan
masalah-masalah yang berkenaan dengan syari’at.
Apabila seseorang bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa maka akan
tampaklah kebenaran padanya, karena banyaknya pandangan mereka, yang
(pandangan-pandangan itu) tidak terlintas di benaknya sebelum itu.
Oleh karena itu saya nasehatkan kepada semua untuk tidak tergesa-gesa
dan hendaknya ia menjadi manusia terakhir angkat bicara, agar dia bisa
menjadi hakim (pemberi keputusan) di antara pendapat-pendapat yang ada.
Karena akan nampak padanya berbagai pandangan yang berbeda yang belum
jelas baginya sebelum ia mendengarkan pendapat-pendapat tersebut. Ini
dalam hubungannya dengan urusan dunia, adapun masalah agama, tidak
diperbolehkan sama sekali berbicara, kecuali dengan ilmu yang telah ia
ketahui dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya atau ucapan-ucapan para
ulama.
[Dinukil dari كتاب العلم (Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu
Syar’i) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 181-182,
193-194, 204-205, penerjemah: Abu ‘Abdillah Salim bin Subaid, penerbit:
Pustaka Sumayyah]
Hati Sebesar Cawan
“Aduhai, kenapakah hidup aku selalu dirundung malang begini..?” lelaki muda itu berkeluh-kesah. Selama hidupnya, dia tak pernah merasakan ketenangan yang sebenar. Hatinya tidak pernah sepi daripada merasakan kerisauan.
Fikirnya, Tuhan tidak pernah sudi meminjamkan kedamaian hati padanya. Dia sangat cemburu apabila memandang sekeliling. Mereka bebas ketawa dan mudah tersenyum. Tapi dia? Dia hanya mampu tenggelam dalam dunia sepi dan resahnya sendiri.
Hatinya tidak mampu mengisi segala masalah yang menghimpit jiwanya. Lalu, selepas lelah dan puas berfikir, suatu hari dia melangkah longlai menuju ke hujung kampung. Niat hatinya, ingin menemui seorang lelaki tua.
Saban hari, wajah lelaki tua itu sentiasa kelihatan tenang. Damai sentiasa bertamu diwajahnya. Dia ingin sekali meminta rahsia. Lalu, dia terus berperi kepada lelaki tua tersebut.
Masalah keluh kesah dan kerisauannya didengari lelaki tua itu sambil tersenyum. Lalu dia mengajak lelaki itu ke suatu tempat iaitu ke tepi sebuah kolam yang besar sambil membawa sebiji cawan dan dua bungkus garam. Lelaki itu mengikut, walaupun hatinya sedikit hairan.
“Anak muda,” lelaki tua itu bersuara.
“Ambillah cawan ini, isikanlah air dan masukkanlah sebungkus garam,” ujarnya lagi. Lelaki itu yang dalam kebingungan hanya menurut.
Cawan diambil, air diisi dan garam dimasukkan. Kemudian lelaki tua itu berkata lagi.
“Sekarang kamu minumlah air tersebut,” dalam bingung yang masih bersisa, lelaki itu mengikut kata lelaki tua itu.
” Apa rasanya?” tanya lelaki tua itu apabila melihat kerutan di dahi lelaki tersebut.
” Masin!”
Lelaki tua itu tersenyum lagi.
“Sekarang, kamu masukkan pula sebungkus garam ini ke dalam kolam itu. Kemudian kamu hiruplah airnya.”
Lelaki tua itu menunjukkan arah ke kolam. Sekali lagi lelaki itu hanya mengikut tanpa menyoal. Air dicedok dengan kedua belah tapak tangan dan dihirup.
“Apa rasanya, wahai anak muda?” soal lelaki tua itu.
“Tawar, tidak masin seperti tadi,” lelaki muda itu menjawab sambil mengelap mulut.
“Anakku, adakah kamu memahami kenapa aku meminta kamu berbuat begitu tadi?” tanya lelaki tua itu, sambil memandang tepat ke arah lelaki tersebut. Lelaki itu hanya menggeleng. Lelaki tua itu menepuk-nepuk bahu lelaki tersebut.
“Anakku, beginilah perumpamaan bagi diri kita dan masalah. Garam itu umpama masalah. Cawan dan kolam umpama hati kita. Setiap orang mempunyai masalah, ditimpa masalah dan diuji dengan masalah. Tetapi, kalau hati kita sebesar cawan, maka kita akan merasai pahitnya masalah itu, pedihnya hati kita dan keluh kesahnya kita.”
“Tetapi kalau hati kita sebesar kolam, masalah tidak akan mengganggu kita. Kita masih boleh tersenyum sebab kita akan mengerti masalah bukan hadir untuk menyusahkan kita. Masalah dianugerahkan untuk kita berfikir, untuk kita muhasabah diri. Masalah dan ujian akan memberi hikmah kepada kita.”
“Anakku, itulah rahsiaku. Aku sentiasa berlapang dada, aku sentiasa membesarkan jiwaku, supaya aku boleh berfikir tentang perkara-perkara lain dan masih boleh memberi kebahagiaan padaku. Aku tidak akan sesekali membiarkan hatiku kecil seperti cawan, sehingga aku tidak mampu menanggung diriku sendiri.”
Maka, pada petang itu lelaki itu pulang dengan senyuman yang terukir di bibir. Dalam hati, dia berjanji akan sentiasa membesarkan jiwa dan berlapang dada.
Jubah Buat Ibu
"Apa nak jadi dengan kau ni Along? Bergaduh! Bergaduh! Bergaduh! Kenapa kau degil sangat ni? Tak boleh ke kau buat sesuatu yang baik, yang tak menyusahkan aku?," marah ibu.
Along hanya membungkam. Tidak menjawab sepatah apapun.
"Kau tu dah besar Along. Masuk kali ni dah dua kali ka uulang ambil SPM, tapi kau asyik buat hal di sekolah. Cuba la kau ikut macam Angah dengan Alang tu. Kenapa kau susah sangat nak dengar nasihat orang hah?", leter ibu lagi.
Suaranya kali ini sedikit sebak bercampur marah. Along terus membatukan diri. Tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Seketika dia melihat si ibu berlalu pergi dan kembali semula dengan rotan di tangannya. Kali ini darah Along mula menderau. Dia berdoa dalam hati agar ibu tidak memukulnya lagi seperti selalu.
"Sekarang kau cakap,kenapa kau bergaduh tadi? Kenapa kau pukul anak pengetua tu? Cakap Along, cakap!", Jerkah ibu.
Along semakin berdebar-debar namun dia tidak dapat berkata-kata. Suaranya bagai tersekat di kerongkong. Malah, dia juga tidak tahu bagaimana hendak menceritakan hal sebenar. Si ibu semakin bengang.
" Jadi betul la kau yang mulakan pergaduhan ye!? Nanti kau, suka sangat cari penyakitkan, sekarang nah, rasakan!", Si ibu merotan Along berkali-kali dan berkali-kali jugaklah Along menjerit kesakitan.
"Sakit bu...sakit....maafkan Along bu, Along janji tak buat lagi....Bu, jangan pukul bu...sakit bu...", Along meraung meminta belas si ibu agar tidak merotannya lagi.
"Tau sakit ye, kau bergaduh kat sekolah tak rasa sakit?" Balas ibu lagi.
Kali ini semakin kuat pukulan si ibu menyirat tubuh Along yang kurus itu.
"Bu...ampunkan Along bu...bukan Along yang mulakan...bukan Along....bu, sakit bu..!!", rayu Along dengan suara yang tersekat-sekat menahan pedih.
Along memaut kaki si ibu. Berkali-kali dia memohon maaf daripada ibunya namun siratan rotan tetap mengenai tubuhnya.Along hanya mampu berdoa. Dia tidak berdaya lagi menahan tangisnya. Tangis bukan kerana sakitnya dirotan, tapi kerana memikirkan tidak jemukah si ibu merotannya setiap hari.
Setelah hatinya puas, si ibu mula berhenti merotan Along. Tangan Along yang masih memaut kakinya itu ditepis kasar. Along menatap mata ibu. Ada manik-manik kaca yang bersinar di kelopak mata si ibu. Along memandang dengan sayu. Hatinya sedih kerana telah membuatkan ibunya menangis lagi kerananya.
Malam itu, Along berjaga sepanjang malam. Entah mengapa matanya tidak dapat dilelapkan. Dia asyik teringatkan peristiwa dirotan ibu petang tadi. Begitulah yang berlaku apabila ibu marahkannya. Tapi kali ini marah ibu sangat memuncak. Mungkin kerana dia menumbuk anak pengetua sewaktu di sekolah tadi menyebabkan pengetua hilang sabar dan memanggil ibunya ke sekolah untuk membuat aduan kesekian kalinya.
Sewaktu di bilik pengetua, Along sempat menjeling ibu di sebelah. Namun, dia tidak diberi kesempatan untuk bersuara. Malah, semua kesalahan itu di dilemparkan kepadanya seorang.
Si Malik anak pengetua itu bebas seolah-olah sedikit pun tidak bersalah dalam hal ini. Along mengesat sisa-sisa air mata yang masih bertakung di kelopak matanya. Dia berlalu ke meja tulis mencapai minyak sapu lalu disapukan pada bekas luka yang berbirat di tubuhnya dek rotanan ibu tadi. Perlahan-lahan dia menyapu ubat namun masih tetap terasa pedihnya. Walaupun sudah biasa dirotan, namun tidak seteruk kali ini. Along merebahkan badannya.
Dia cuba memejamkan mata namun masih tidak mahu lelap. Seketika wajah ibu menjelma diruang ingatannya.
Wajah ibu suatu ketika dahulu sangat mendamaikan pada pandangan matanya. Tetapi, sejak dia gagal dalam SPM, kedamaian tu semakin pudar dan hanya kelihatan biasa dan kebencian di wajah tua itu. Apa yang dibuat serba tidak kena pada mata ibu. Along sedar, dia telah mengecewakan hati ibu dahulu kerana mendapat keputusan yang corot dalam SPM. Tetapi Along tidak pernah ambil hati dengan sikap ibu walau adakalanya kata-kata orang tua itu menyakiti hatinya.
Along sayang pada ibu. Dialah satu-satunya ibu yang Along ada walaupun kasih ibu tidak semekar dahulu lagi. Along mahu meminta maaf. Dia tidak mahu menjadi anak derhaka. Fikirannya terlalu caca-marba, dan perasaannya pula semakin resah gelisah. Akhirnya, dalam kelelahan melayani perasaan, Along terlelap juga.
Seminggu selepas peristiwa itu, si ibu masih tidak mahu bercakap dengannya. Jika ditanya, hanya sepatah dijawab ibu. Itupun acuh tidak acuh sahaja. Pulang dari sekolah, Along terus menuju ke dapur. Dia mencangak mencari ibu kalau-kalau orang kesayangannya itu ada di situ. Along tersenyum memandang ibu yang terbongkok-bongkok mengambil sudu dibawah para dan kemudian mencacap makanan yang sedang dimasak itu. Dia nekad mahu menolong. Mudah-mudahan usahanya kali ini berjaya mengambil hati ibu.
Namun, belum sempat dia melangkah ke dapur, adik perempuannya yang baru pulang daripada mengaji terus meluru ke arah ibu. Along terperanjat dan cuba berselindung di sebalik pintu sambil memerhatikan mereka.
" Ibu..ibu masak apa ni? Banyaknya lauk, ibu nak buat kenduri ye!?" Tanya Atih kehairanan.
Dia tidak pernah melihat ibunya memasak makanan yang pelbagai jenis seperti itu. Semuanya enak-enak belaka.
Si ibu yang lincah menghiris sayur hanya tersenyum melihat keletah anak bongsunya itu. Sementara Along disebalik pintu terus memerhatikan mereka sambil memasang telinganya.
"Ibu, Atih nak rasa ayam ni satu boleh?" "
Eh jangan, nanti dulu... Ibu tau Atih lapar, tapi tunggulah Kak Ngah dengan Alang balik dulu. Nanti kita makan sekali. Pergi naik atas mandi dan tukar baju dulu ye!", si ibu bersuara lembut.
Along menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. 'anak-anak kesayangan ibu nak balik rupanya...' bisik hati kecil Along.
"Kak Ngah dengan Alang nak balik ke ibu?", soalnya lagi masih belum berganjak dari dapur.
Si ibu mengangguk sambil tersenyum. Di wajahnya jelas menampakkan kebahagiaan.
"Oooo patutlah ibu masak lauk banyak-banyak. Mmm bu, tapi Atih pelik la. Kenapa bila Along balik, ibu tak masak macam ni pun?".
Along terkejut mendengar soalan Atih. Namun dia ingin sekali tahu apa jawapan dari ibunya.
"Along kan hari-hari balik rumah? Kak Ngah dengan Alang lain, diorang kan duduk asrama, balik pun sebulan sekali ja!",terang si ibu.
"Tapi, ibu tak penah masak lauk macam ni dekat Along pun..", soal Atih lagi.
Dahinya sedikit berkerut dek kehairanan. Along mula terasa sebak. Dia mengakui kebenaran kata-kata adiknya itu namun dia tidak mahu ada perasaan dendam atau marah walau secalit punpada ibu yang sangat disayanginya.
"Dah tu, pergi mandi cepat. Kejap lagi kita pergi ambil Kak Ngah dengan Alang dekat stesen bas." , arah ibu.
Dia tidak mahu Atih mengganggu kerja-kerjanya di dapur dengan menyoal yang bukan-bukan.
Malah ibu juga tidak senang jika Atih terus bercakap tentang Along. Pada ibu, Along anak yang derhaka yang selalu menyakiti hatinya. Apa yang dikata tidak pernah didengarnya. Selalu pula membuat hal di sekolah mahupun di rumah. Disebabkan itulah ibu semakin hilang perhatian pada Along dek kerana marah dan kecewanya.
Selepas ibu dan Atih keluar, Along juga turut keluar. Dia menuju ke Pusat Bandar sambil jalan-jalan buat menghilangkan tekanannya. Tiba di satu kedai, kakinya tiba-tiba berhenti melangkah. Matanya terpaku pada sepasang jubah putih berbunga ungu yang di lengkapi dengan tudung bermanik.
'Cantiknya, kalau ibu pakai mesti lawa ni....' Dia bermonolog sendiri.
Along melangkah masuk ke dalam kedai itu. Sedang dia membelek-belek jubah itu, bahunya tiba-tiba disentuh seseorang. Dia segera menoleh. Rupa-rupanya itu Fariz, sahabatnya.
"La...kau ke, apa kau buat kat sini?", tanya Along ingin tahu sambil bersalaman dengan Fariz.
"Aku tolong jaga butik kakak aku. Kau pulak buat apa kat sini?",soalnya pula.
"Aku tak de buat apa-apa, cuma nak tengok-tengok baju ni. Aku ingat nak kasi mak aku!", jelas Along jujur.
"waa...bagus la kau ni Azam. Kalau kau nak beli aku bagi less 50%. Macammana?" Terlopong mulut
Along mendengar tawaran Fariz itu.
"Betul ke ni Riz? Nanti marah kakak kau!", Along meminta kepastian.
"Untuk kawan baik aku, kakak aku mesti bagi punya!", balas Fariz meyakinkannya.
"Tapi aku kena beli minggu depan la. Aku tak cukup duit sekarang ni." Cerita Along agak keseganan. Fariz hanya menepuk mahunya sambil tersenyum.
"Kau ambik dulu, lepas tu kau bayar sikit-sikit." Kata Fariz .
Along hanya menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Dia tidak mahu berhutang begitu. Jika ibunya tahu, mesti dia dimarahi silap-silap dipukul lagi.
"Dekat kau ada berapa ringgit sekarang ni?", soal Fariz yang benar-benar ingin membantu sahabatnya itu. Along menyeluk saku seluarnya dan mengeluarkan dompet berwarna hitam yang semakin lusuh itu.
"Tak sampai sepuluh ringgit pun Riz, tak pe lah, aku datang beli minggu depan. Kau jangan jual dulu baju ni tau!", pesan Along bersungguh-sungguh. Fariz hanya mengangguk senyum.
Hari semakin lewat. Jarum pendek sudah melangkaui nombor tujuh. Setelah tiba, kelihatan Angah dan Alang sudah berada di dalam rumah. Mereka sedang rancak berbual dengan ibu di ruang tamu. Dia menoleh kearah mereka seketika kemudian menuju ke dapur. Perutnya terasa lapar sekali kerana sejak pulang dari sekolah petang tadi dia belum makan lagi. Penutup makanan diselak. Syukur masih ada sisa
lauk-pauk yang ibu masak tadi bersama sepinggan nasi di atas meja. Tanpa berlengah dia terus makan sambil ditemani Si Tomei, kucing kesayangan arwah ayahnya.
"Baru nak balik waktu ni? Buat hal apa lagi kat luar tu?", soalan ibu yang bernada sindir itu tiba-tiba membantutkannya daripada menghabiskan sisa makanan di dalam pinggan.
"Kenapa tak makan kat luar ja? Tau pulak, bila lapar nak balik rumah!", leter ibu lagi. Along hanya diam.
Dia terus berusaha mengukir senyum dan membuat muka selamber seperti tidak ada apa-apa yang berlaku. Tiba-tiba Angah dan Alang menghampirinya di meja makan. Mereka berdiri di sisi ibu yang masih memandang ke arahnya seperti tidak berpuas hati.
"Along ni teruk tau. Suka buat ibu susah hati. Kerana Along, ibu kena marah dengan pengetua tu." Marah Angah, adik perempuannya yang sedang belajar di MRSM.
Along mendiamkan diri. Diikutkan hati, mahu saja dia menjawab kata-kata adiknya itu tetapi melihat kelibat ibu yang masih di situ, dia mengambil jalan untuk membisu sahaja.
"Along! Kalau tak suka belajar, berhenti je la. Buat je kerja lain yang berfaedah daripada menghabiskan duit ibu", sampuk Alang, adik lelakinya yang menuntut di sekolah berasrama penuh. Kali ini kesabarannya benar-benar tercabar.
Hatinya semakin terluka melihat sikap mereka semua. Dia tahu, pasti ibu mengadu pada mereka. Along mengangkat mukanya memandang wajah ibu. Wajah tua si ibu masam mencuka. Along tidak tahan lagi. Dia segera mencuci tangan dan meluru ke biliknya.
Perasaannya jadi kacau. Fikirannya bercelaru. Hatinya pula jadi tidak keruan memikirkan kata-kata mereka.
Along sedar, kalau dia menjawab, pasti ibu akan semakin membencinya. Along nekad, esok pagi-pagi, dia akan tinggalkan rumah. Dia akan mencari kerja di Bandar. Kebetulan cuti sekolah selama seminggu bermula esok.
Seperti yang dinekadkan, pagi itu selesai solat subuh, Along terus bersiap-siap dengan membawa beg sekolah berisi pakaian, Along keluar daripada rumah tanpa ucapan selamat. Dia sekadar menyelitkan nota buat si ibu menyatakan bahawa dia mengikuti program sekolah berkhemah di hutan selama seminggu. Niatnya sekadar mahu mencari ketenangan selama beberapa hari justeru dia terpaksa berbohong agar ibu tidak bimbang dengan tindakannya itu. Along menunggang motorsikalnya terus ke Pusat Bandar untuk mencari pekerjaan. Nasib menyebelahinya, tengah hari itu, dia diterima bekerja dengan Abang Joe sebagai pembantu di bengkel membaiki motorsikal dengan upah lima belas ringgit sehari, dia sudah rasa bersyukur dan gembira. Gembira kerana tidak lama lagi,dia dapat membeli jubah untuk ibu.
Hari ini hari ke empat Along keluar daripada rumah. Si ibu sedikit gelisah memikirkan apa yang dilakukan Along di luar. Dia juga berasa agak rindu dengan Along. Entah mengapa hati keibuannya agak tersentuh setiap kali terpandang bilik Along. Tetapi kerinduan dan kerisauan itu terubat apabila melihat gurau senda anak-anaknya yang lain.
Seperti selalu, Along bekerja keras membantu Abang Joe dibengkelnya. Sikap Abang Joe yang baik dan kelakar itu sedikit sebanyak mengubat hatinya yang luka. Abang Joe baik. Dia banyak membantu Along antaranya menumpangkan Along di rumahnya dengan percuma.
"Azam, kalau aku tanya kau jangan marah k!", soal Abang Joe tiba-tiba sewaktu mereka menikmati nasi bungkus tengah hari itu.
"Macam serius jer bunyinya Abang Joe?" Along kehairanan.
"Sebenarnya, kau lari dari rumah kan ?"
Along tersedak mendengar soalan itu. Nasi yang disuap ke dalam mulut tersembur keluar. Matanya juga kemerah-merahan menahan sedakan. Melihat keadaan Along itu, Abang Joe segera menghulurkan air.
"Kenapa lari dari rumah? Bergaduh dengan parents?" Tanya Abang Joe lagi cuba menduga.
Soalan Abang Joe itu benar-benar membuatkan hati Along sebak. Along mendiamkan diri. Dia terus menyuap nasi ke dalam mulut dan mengunyah perlahan. Dia cuba menundukkan mukanya cuba menahan perasaan sedih.
"Azam, kau ada cita-cita tak...ataupun impian ker...?" Abang Joe mengubah topik setelah melihat reaksi Along yang kurang selesa dengan soalannya tadi.
" Ada " jawab Along pendek
"Kau nak jadi apa besar nanti? Jurutera? Doktor? Cikgu? Pemain bola? Mekanik macam aku...atau...."
Along menggeleng-gelengkan kepala.
"semua tak...Cuma satu je, saya nak mati dalam pangkuan ibu saya." Jawab Along disusuli ketawanya.
Abang Joe melemparkan tulang ayam ke arah Along yang tidak serius menjawab soalannya itu.
" Ala , gurau ja la Abang Joe. Sebenarnya....saya nak bawa ibu saya ke Mekah dan...saya....saya nak jadi anak yang soleh!". Perlahan sahaja suaranya namun masih jelas didengari telinga Abang Joe.
Abang Joe tersenyum mendengar jawapannya. Dia bersyukur di dalam hati kerana mengenali seorang anak yang begitu baik. Dia sendiri sudah bertahun-tahun membuka bengkel itu namun belum pernah ada cita-cita mahu menghantar ibu ke Mekah.
Setelah tamat waktu rehat, mereka menyambung kerja masing-masing. Tidak seperti selalu, petang itu Along kelihatan banyak berfikir. Mungkin terkesan dengan soalan Abang Joe sewaktu makan tadi.
"Abang Joe, hari ni, saya nak balik rumah ...terima kasih banyak kerana jaga saya beberapa hari ni", ucap Along sewaktu selesai menutup pintu bengkel.
Abang Joe yang sedang mencuci tangannya hanya mengangguk. Hatinya gembira kerana akhirnya anak muda itu mahu pulang ke pangkuan keluarga. Sebelum berlalu, Along memeluk lelaki bertubuh sasa itu. Ini menyebabkan Abang Joe terasa agak sebak.
"Abang Joe, jaga diri baik-baik. Barang-barang yang saya tinggal kat rumah Abang Joe tu,saya hadiahkan untuk Abang Joe." Kata Along lagi.
"Tapi, kau kan boleh datang bila-bila yang kau suka ke rumah aku!?", soal Abang Joe.
Dia risau kalau-kalau Along menyalah anggap tentang soalannya tadi. Along hanya senyum memandangnya.
"Tak apa, saya bagi kat Abang Joe. Abang Joe, terima kasih banyak ye! Saya rasa tak mampu nak balas budi baik abang. Tapi, saya doakan perniagaan abang ni semakin maju." Balasnya dengan tenang.
Sekali lagi Abang Joe memeluknya bagai seorang abang memeluk adiknya yang akan pergi jauh.
Berbekalkan upahnya, Along segera menuju ke butik kakak Fariz untuk membeli jubah yang diidamkannya itu. Setibanya di sana , tanpa berlengah dia terus ke tempat di mana baju itu disangkut.
" Hey Azam,mana kau pergi? Hari tu mak kau ada tanya aku pasal kau. Kau lari dari rumah ke?", soal Fariz setelah menyedari kedatangan sahabatnya itu.
Along hanya tersengeh menampakkan giginya.
"Zam, mak kau marah kau lagi ke? Kenapa kau tak bagitau hal sebenar pasal kes kau tumbuk si Malik tu?"
Tak pe lah, perkara dah berlalu....lagipun, aku tak nak ibu aku terasa hati kalau dia dengar tentang perkara ni", terang Along dengan tenang.
"Kau jadi mangsa. Tengok, kalau kau tak bagitau, mak kau ingat kau yang salah", kata Fariz lagi.
"Tak apa lah Riz, aku tak nak ibu aku sedih. Lagipun aku tak kisah."
"Zam..kau ni....."
"Aku ok, lagipun aku sayang dekat ibu aku. Aku tak nak dia sedih dan ingat kisah lama tu." Jelas Along memotong kata-kata si sahabat yang masih tidak berpuas hati itu.
"Aku nak beli jubah ni Riz. Kau tolong balutkan ek, jangan lupa lekat kad ni sekali, k!", pinta Along sambil menyerahkan sekeping kad berwarna merah jambu.
"No problem...tapi, mana kau dapat duit? Kau kerja ke?" , soal Fariz ingin tahu.
"Aku kerja kat bengkel Abang Joe. Jadi pembantu dia", terang Along.
"Abang Joe mana ni?"
"Yang buka bengkel motor kat Jalan Selasih sebelah kedai makan pakcik kantin kita tu!",jelas Along dengan panjang lebar.
Fariz mengangguk .
"Azam, kau nak bagi hadiah ni kat mak kau bila?"
"Hari ni la..." balas Along.
"Ooo hari lahir ibu kau hari ni ek?"
"Bukan, minggu depan..."
"Habis?. Kenapa kau tak tunggu minggu depan je?", soal Fariz lagi.
"Aku rasa hari ni je yang yang sempat untuk aku bagi hadiah ni. Lagipun, aku harap lepas ni ibu aku tak marah aku lagi." Jawabnya sambil mengukir senyum.
Along keluar daripada kedai. Kelihatan hujan mulai turun. Namun Along tidak sabar menunggu untuk segera menyerahkan hadiah itu untuk ibu. Sambil menunggang, Along membayangkan wajah ibu yang sedang tersenyum menerima hadiahnya itu. Motosikalnya sudah membelok ke Jalan Nuri II. Tiba di simpang hadapan lorong masuk ke rumahnya, sebuah kereta wira yang cuba mengelak daripada melanggar seekor kucing hilang kawalandan terus merempuh Along dari depan yang tidak sempat mengelak.
Akibat perlanggaran yang kuat itu, Along terpelanting ke tengah jalan dan mengalami hentakan yang kuat di kepala dan belakangnya. Topi keledar yang dipakai mengalami retakan dan tercabut daripada kepalanya,
Along membuka matanya perlahan-lahan dan terus mencari hadiah untuk si ibu dan dengan sisa kudrat yang ada, dia cuba mencapai hadiah yang tercampak berhampirannya itu. Dia menggenggam kuat cebisan kain dan kad yang terburai dari kotak itu. Darah semakin membuak-buak keluar dari hidungnya. Kepalanya juga terasa sangat berat, pandangannya berpinar-pinar dan nafasnya semakin tersekat-sekat.
Dalam keparahan itu, Along melihat kelibat orang-orang yang sangat dikenalinya sedang berlari ke arahnya.
Serta merta tubuhnya terus dirangkul seorang wanita. Dia tahu, wanita itu adalah ibunya. Terasa bahagia sekali apabila dahinya dikucup saat itu. Along gembira. Itu kucupan daripada ibunya.
Dia juga dapat mendengar suara Angah, Alang dan Atih memanggil-manggil namanya. Namun tiada suara yang keluar dari kerongkongnya saat itu. Along semakin lemah. Namun, dia kuatkan semangat dan cuba menghulurkan jubah dan kad yang masih digenggamannya itu.
"Ha..hadiah....untuk....ibu........." ucapnya sambil berusaha mengukir senyuman. Senyuman terakhir buat ibu yang sangat dicintainya.
Si ibu begitu sebak dan sedih. Si anak dipeluknya sambil dicium berkali-kali. Air matanya merembes keluar bagai tidak dapat ditahan lagi. Pandangan Along semakin kelam. Sebelum matanya tertutup rapat, terasa ada air hangat yang menitik ke wajahnya. Akhirnya, Along terkulai dalam pangkuan ibu dan dia pergi untuk selama-lamanya.
Selesai upacara pengebumian, si ibu terus duduk di sisi kubur Along bersama Angah, Alang dan Atih.
Dengan lemah, wanita itu mengeluarkan bungkusan yang hampir relai dari beg tangannya. Sekeping kad berwarna merah jambu bertompok darah yang kering dibukanya lalu dibaca.
'Buat ibu yang sangat dikasihi, ampunkanlah salah silap along selama ini.
Andai along melukakan hati ibu, along pinta sejuta kemaafan.
Terimalah maaf along bu..
Along janji tak kan membuatkan ibu marah lagi.
Ibu, Along sayang ibu selama-lamanya.
Selamat hari lahir ibu...
dan terimalah hadiah ini.....
UNTUKMU IBU!'
Andai along melukakan hati ibu, along pinta sejuta kemaafan.
Terimalah maaf along bu..
Along janji tak kan membuatkan ibu marah lagi.
Ibu, Along sayang ibu selama-lamanya.
Selamat hari lahir ibu...
dan terimalah hadiah ini.....
UNTUKMU IBU!'
Kad itu dilipat dan dicium. Air mata yang bermanik mula berjurai membasahi pipi. Begitu juga perasaan yang dirasai Angah, Alang dan Atih. Masing-masing berasa pilu dan sedih dengan pemergian seorang abang yang selama ini disisihkan. Sedang melayani perasaan masing-masing, Fariz tiba-tiba muncul. Dia terus mendekati wanita tua itu lalu mencurahkan segala apa yang dipendamnya selama ini.
"Makcik, ampunkan segala kesalahan Azam. Azam tak bersalah langsung dalam kes pergaduhan tu makcik. Sebenarnya, waktu Azam dan saya sibuk menyiapkan lukisan, Malik datang dekat kami. Dia sengaja cari pasal dengan Azam dengan menumpahkan warna air dekat lukisan Azam. Lepas tu, dia ejek-ejek Azam. Dia cakap Azam anak pembunuh. Bapa Azam seorang pembunuh dan ... dia jugak cakap, ibunya seorang perempuan gila..." cerita Fariz dengan nada sebak.
Si ibu terkejut mendengarnya. Terbayang di ruang matanya pada ketika dia merotan Along kerana kesalahan menumbuk Malik.
"Tapi, kenapa arwah tidak ceritakan pada makcik Fariz?" Soalnya dengan sedu sedan.
"Sebab.....dia tak mahu makcik sedih dan teringat kembali peristiwa dulu. Dia cakap, dia tak nak makcik jatuh sakit lagi,dia tak nak mengambil semua ketenangan yang makcik ada sekarang...walaupun dia disalahkan, dia terima. Tapi dia tak sanggup tengok makcik dimasukkan ke hospital sakit jiwa semula...." Terang Fariz lagi.
Dia berasa puas kerana dapat menyatakan kebenaran bagi pihak sahabatnya itu.
Si ibu terdiam mendengar penjelasan Fariz. Terasa seluruh anggota badannya menjadi Lemah. Berbagai perasaan mencengkam hatinya Sungguh hatinya terasa sangat pilu dan terharu dengan pengorbanan si anak yang selama ini dianggap derhaka.
Subscribe to:
Posts (Atom)

