Monday, October 11, 2010
Rahasia Haji, Keutamaan dan Adab-adabnya

Haji adalah berkunjung ke Baitullah Al-Haram di Mekkah Al-Mukaramah untuk melakukkan thawaf, Sa’i, wukuf di Arafah dan melakukan amalan-amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Haji hukumnya wajib sekali seumur hidup bagi setiap muslim baligh, berakal, merdeka dan yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan.
Allah Ta’ala berfirman. “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (Qs. Ali Imran (3): 97)
Sabda Rasulullah SAW: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan Haji atas kalian, maka berhajilah”. (HR. Muslim)
Haji adalah salah satu rukun Islam yang lima, sebagai mana yang tercantum dalam hadist Rasulullah SAW: Islam didirikan atas perkara yang Lima.
1. Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan/Rasul Allah.
2. Mendirikan Shalat.
3. Mengeluarkan zakat
4. Puasa Ramadhan
5. Haji ke Baitullah (bagi siapa yang mampu bepergian kepadanya) (HR. Bukhari dan Muslim).
Haji adalah ibadah yang memiliki hikmah dan rahasia, serta kedudukan penting dalam ajaran Islam.
Haji memiliki faedah dan hikmah yang banyak. Antaranya haji itu sebagai alat penghapus dosa. Hal ini dikatakan oleh Rasulullah: "Barang siapa yang pergi haji dan dia tidak mengeluarkan kata-kata keji serta tidak melakukan perbuatan dosa, maka akan diampunkan dosa-dosanya seperti dia baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmizi daripada Abu Hurairah).
Selain itu, doa orang yang melaksanakan ibadah haji dapat mengampunkan dosa orang yang didoakannya. Artinya, haji itu menjadi alat untuk mengampunkan dosa dan mengampunkan dosa orang lain. Hal ini dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya: “Dosa orang yang menunaikan ibadah haji diampunkan Allah, dan Allah juga mengampunkan orang yang didoakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji.” (HR. Tabrani dan Hakim).
Haji juga perhimpunan agung sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melaksanakan ibadah yang sama menghadap ke arah kiblat yang sama. Keadaan seperti ini akan menimbulkan sikap perpaduan serta persaudaraan.
Jemaah haji pergi menuju Mekkah dengan hanya berbekal barang-barang terbatas. Di tanah air masing-masing mereka memiliki keluarga, rumah, kendaraan, kebun, ladang dan sebagainya. Tetapi, ketika pergi haji, semua itu mereka tinggalkan. Mereka pergi dengan hanya berbekal beberapa helai pakaian dan keperluan tertentu.
Ini gambaran kecil bahwa ketika meninggalkan alam ini, manusia juga tidak membawa apa-apa. Meninggalkan sanak saudara. Harta benda menjadi hak ahli waris yang ditinggalkan. Hanya iman dan amal yang menjadi bekal dalam menghadapi perjalanan panjang di akhirat.
Pada masa ihram, jemaah haji hanya memakai dua helai kain putih sebagai penutup badan dan pelindung pada waktu panas dan dingin. Mereka dilarang memakai pakaian berjahit. Tidak melihat yang kaya atau miskin, jenderal atau koperal, mereka tetap memakai pakaian yang sama.
Antara hikmah yang tersimpan daripada ihram adalah persamaan. Pada mata Allah tidak ada perbedaan antara seorang hamba dengan hamba yang lain. Hanya takwa yang menjadi pemisah dan pembeda, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujuraat : 13).
Di samping itu, ihram menjadi gambaran bahwa pada saat meninggalkan alam fana ini, meskipun memiliki pakaian, bahkan harta yang banyak, yang dipakai hanya beberapa lapis kain kafan sebagai penutup badan ketika berada dalam kubur.
Selepas ihram, melaksanakan tawaf. Mereka berlari-lari kecil atau berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Berlari mengelilingi Ka’bah antara ratusan ribu manusia bukanlah hal yang mudah. Pada saat itu, jemaah akan didorong, terhimpit dan terinjak, bahkan ada yang meninggal dunia karena tidak mampu menahan gelombang manusia.
Hanya sikap hati-hati dan sabar serta mengharap pertolongan daripada Allah yang dapat menyelamatkan jemaah daripada kejadian tidak diinginkan.
Apa yang berlaku pada saat tawaf adalah gambaran kecil daripada keadaan yang akan ditempuh ketika berada di akhirat nanti. Pada saat itu, manusia tidak dapat bergantung kepada orang lain. Hanya amal dan pertolongan daripada Allah dan syafaat Rasulullah yang dapat membantu.
Puncak daripada pelaksanaan haji adalah wukuf di Arafah. Ulama bersepakat mengatakan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji yang terpenting. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Ahmad).
Di Arafah, manusia berhimpun di bawah terik panas matahari yang membakar kulit. Mereka masih memakai pakaian ihram yang sekadar menutup badan. Pada waktu itu, setiap orang akan merasakan bagaimana penderitaan yang pernah dialami oleh sahabat ketika berperang atau berdakwah diatas terik panas matahari.
Keadaan di Arafah ini juga sebenarnya gambaran kecil daripada suasana di Padang Mahsyar. Di mana manusia tidak dapat berlindung dan bernaung. Tidak ada tempat untuk meminta pertolongan. Hanya amal dan takwa serta naungan daripada Allah dan syafaat rasul-Nya yang akan menjadi pelindung.
Apabila semua rahasia dan hikmah ini disadari, maka apa pun yang dihadapi ketika berada di Tanah Suci akan dilalui dengan sabar, seraya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah. Kita juga mengharapkan ihsan-Nya agar haji yang dilaksanakan menjadi haji mabrur.
Sebagai tamu Allah, jemaah haji sewajarnya menyerahkan dirinya kepada Allah dengan ikhlas dan meninggalkan segala beban pemikiran yang mungkin merusak kekhusyuan dalam beribadah. Mereka berangkat menuju Tanah Suci seolah-olah sedang berjalan memenuhi panggilan Ilahi ketika meninggalkan alam fana ini. Datang dengan niat dan hati yang suci semata-mata mencari keridhaan Ilahi.
Perjalanan Haji bukanlah suatu perjalanan piknik untuk sebuah kepuasan duniawi, justru kepuasan duniawi terkorbankan dalam rangka mendapatkan kepuasan yang lebih tinggi.
Haji dalam Islam memiliki nilai plus, yaitu dengan terbitnya kepuasan jiwa dan perasaan semakin dekat dengan sang Pencipta. Perasaan dekat ini melebihi cintanya pada harta, tahta, keluarga dan saudara. Bahkan ketika seorang hamba menginjakkan kaki dari tempat tinggalnya menuju rumah Allah (Baitullah), ia sudah berniat untuk bebas dari belenggu yang mengikatnya, hatinya tunduk kepada Yang Maha Kuasa, sehingga ia merasa bahwa dunia dan isinya, luluh dan rapuh di hadapanNya. Dengan ungkapan “Labbaika Allahumma Labbaika (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah)”, seorang hamba telah menancapkan bendera syukur atas karunia yang melimpah-ruah. Dan Maha Besar Allah atas seluruh karunia-Nya.
Kalau umat Islam menghadap kiblat (ka'bah) lima kali sehari dari jarak jauh, namun pada musim haji mereka dapat melihat Ka'bah dengan mata kepala secara langsung ketika sedang memasuki Al-Baitullah al-Haram dan bertawaf di sekelilingnya, tanpa terasa air mata telah bercucuran. Cucuran air mata saat itu, bukan tanda kesedihan atau kemurungan, seperti yang terjadi dalam hidup sehari-hari, ketika ditimpa musibah misalnya. Banyak orang tidak tahu, apa sebab dan rahasia di balik peristiwa ini. Peristiwa ini merupakan sebuah ungkapan wajar, saat seseorang meninggalkan keangkuhan dan kesombongan, yang selama ini menyelimuti kehidupannya. Keadaan semacam ini kian menumbuhkan perasaan tunduk seseorang kepada Sang Pencipta, dan kehadirannya di depan Ka'bah hanya untuk menyampai kan penyesalan atas perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan, dengan harapan kiranya Allah mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.
Perasaan dekat dengan Allah setiap saat, niscaya akan menjadikan tangis sebuah dinamo untuk melahirkan kebahagiaan dan kemerdekaan dari lumuran dosa. Dengan taubat yang tulus, seorang hamba enggan untuk kembali pada kejahatan. Lebih dari itu, tangis seorang hamba di depan Ka'bah merupakan barometer kuatnya iman yang mendorongnya untuk meninggalkan hal- hal yang dapat meracuni akidah dan akhlaknya.
Sesungguh nya menanggalkan rasa keangkuhan adalah kekuatan, seperti halnya memohon rahmat dan ampunan adalah kekuatan pula. Apabila dua kekuatan tersebut menyatu, keyakinan untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan menjadi semakin kokoh.
Wukuf di Arafah, Refleksi Padang Makhsyar. Di bukit yang membentang luas ini, seorang hamba diantarkan untuk membayangkan dan merenungi peristiwa yang bakal terjadi pada hari kiamat , yaitu hari dikumpulkannya kembali makhluk Allah di "Padang Makhsyar", yang merupakan terminal terakhir untuk menghitung amal baik dan buruk yang telah dikerjakan, selama di dunia. Di hadapan Allah seluruh manusia adalah sama, baik konglemerat maupun fakir miskin, semuanya akan menghadap kepada Yang Maha Esa, Allah Swt.
Jumrah Aqabah, Melawan Bisikan Setan. Haji merupakan salah satu proses pembentukan insan kamil, yang mampu melawan bisikan setan. Sebab dalam setiap gerak kehidupan, orang tak lepas dari godaan setan. Banyak contoh yang menjelaskan tentang betapa gigihnya godaan makhluk ini. Diantaranya adalah godaan terhadap manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, dan juga terhadap Nabi Ibrahim saat menjalani perintah Allah, yang kemudian beliau berusaha menghardiknya dengan cara melempari makhluk jahat tersebut. Untuk itu, melempar jumrah yang dikenal dengan Jumrah Aqabah, juga merupakan salah satu protret perlawanan terhadap setan.
Selanjutnya, sambil melempar batu kecil di Aqabah, hendaknya disertai niat untuk selalu melawan bisikan setan yang sangat membahayakan. Karenanya, dengan Jumrah Aqabah, kita berharap agar umat Islam senantiasa mampu membaca rahasia-rahasia dibalik setiap peristiwa dalam kehidupan ini. Apakah tiap muslim sudah memiliki missi dalam aktivitas kesehariannya? missinya baik atau tidak ? dan missinya bermanfaat atau tidak ? Ini sebuah pelajaran yang harus diingat.
Antara sesama manusia, ketika melaksanakan haji banyak pelajaran yang mengarah pada pembentukan persamaan derajat. Apabila seseorang di tempat tinggal nya menjadi tokoh masyarakat, pedagang kaki lima dan lain-lain, namun di musim haji mereka sama. Persamaan yang semacam ini akan lebih menciptakan suasana harmonis dan dinamis.
Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada wajah seorang hamba, namun melihat kepada hatinya. Hati merupakan standar derajat manusia antara satu dan yang lain. Suasana haji menciptakan keakraban yang lebih dekat dan lebih membahana di relung hati yang paling dalam. Wallahu ‘alam
Tuesday, September 21, 2010
PERBEDAAN ANTARA ZIARAH KUBUR AHLI TAUHID DAN ORANG-ORANG MUSYRIK
Alangkah bahagia dan bertuah , apabila kubur kita sentiasa menerima kunjungan dari insan-insan yang kita kasihi.....
Adapun maksud ziarah kubur ahli tauhid adalah tiga hal:
Pertama, untuk mengingat mati, mengambil i'tibar dan pelajaran.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengisyaratkan hal tersebut dalam
sabdanya,
"Lakukanlah ziarah kubur, karena ia akan mengingatkanmu pada hari akhirat."
Kedua, berbuat baik kepada si mayit dan agar hal itu tidak terlalu lama masanya, sehingga ia ditinggalkan dan dilupakan. Sebagaimana bila seseorang meninggalkan berziarah kepada orang yang masih hidup dalam masa yang lama, niscaya hal itu membuatnya lupa. Jika ia berziarah kepada orang yang hidup, tentu orang yang diziarahinya akan senang dan bersuka cita dengan ziarahnya, maka lebih-lebih yang diziarahi itu orang yang telah mati, ia akan sangat bersuka cita. Sebab ia telah berada di tempat yang ditinggalkan oleh keluarga, saudara dan handai taulannya. Karena itu, jika ia berziarah kepadanya dan memberinya suatu hadiah berupa doa, shadaqah atau suatu qurbah (pendekatan diri) kepada Allah, maka bertambah-tambahlah kebahagiaan dan suka citanya, sebagaimana orang hidup berbahagia dan senang dengan orang yang menziarahinya dan memberinya hadiah.
Karena itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mensyariatkan kepada orang-orang yang berziarah agar berdoa untuk ahli kubur dengan memohon ampunan, rahmat dan kesentosaan bagi mereka.(1) Tetapi beliau tidak mensyariatkan agar berdoa kepada para ahli kubur, atau menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdoa, juga agar tidak shalat di sisi mereka.
Ketiga, berbuat baik kepada diri sendiri dengan mengikuti Sunnah dalam berziarah, serta menetapi apa yang disyariatkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalamnya, (2) sehingga berarti ia berbuat baik kepada dirinya sendiri dan kepada orang yang ia ziarahi.
Adapun ziarah orang-orang musyrik maka ia berasal dari para penyembah berhala. Mereka berkata, "Mayit yang diagungkan, yang ruhnya memiliki kedekatan, kedudukan dan keistimewaan di sisi Allah, masih saja diberi nikmat oleh Allah, ruhnya dilimpahi-Nya berbagai kebajikan. Karena itu, jika si peziarah menggantungkan dan mendekat-kan ruhnya dengan ruh si mayit tersebut, maka akan mengimbaslah nikmat itu melalui ruh si mayit tersebut. Sebagaimana cermin yang bersih dan air yang jernih memantulkan bayangan tubuh yang berada di hadapannya."
Karena itu mereka berkata, "Ziarah yang sempurna yaitu peziarah harus menghadapkan segenap ruh dan hatinya kepada si mayit, mengkonsentrasikan diri kepadanya sepenuhnya, menetapkan niat dan segenap tujuannya kepadanya, dengan tidak berpaling sedikit pun kepada selainnya, dan sebesar keinginan serta konsentrasi hati kepadanya, sebesar itu pula manfaat yang bakal diperolehnya!"
Ziarah semacam ini telah disebutkan oleh Ibnu Sina, Al-Farabi(3) dan lainnya. Dan secara terang-terangan dinyatakan pula oleh para penyembah bintang-bintang. Mereka mengatakan bahwa jika jiwa yang memohon bergantung dengan ruh-ruh yang tinggi, maka akan dicurahkanlah cahaya daripadanya. Dan karena rahasia ini pula sehingga bintang-bintang disembah, lalu dibuatkan haikal-haikal untuknya, dikarangkan bentuk-bentuk permohonan kepadanya, juga dibuatkan patung-patung visualnya. Dan karena alasan yang sama pulalah sehingga menjadikan para penyembah kuburan membuat perayaan-perayaan di kuburan, membuatkan tabir-tabir untuknya, menyalakan lampu-lampu serta mendirikan tempat ibadah di atasnya. Padahal itulah yang dituju Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar dihancurkan sama sekali, dan agar dipangkas segala yang mengakibatkan kepada hal-hal tersebut(4) Lalu orang-orang musyrik menghalangi jalannya dan menolak tujuannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di suatu pihak dan mereka berada di pihak lain.
Apa yang dilakukan orang-orang penyembah kuburan dalam ziarah kubur, hal yang sama itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, yakni meminta syafa'at yang mereka kira bahwa tuhan-tuhan mereka itu bermanfaat bisa memberi syafa'at kepada mereka di sisi Allah Ta'ala.
Mereka berkata, "Jika seorang hamba menggantungkan ruhnya dengan ruh. orang yang telah dekat di sisi Allah, ia betul-betul menghadap kepadanya dengan segenap konsentrasi dan ketenangan hatinya, niscaya akan terjadi kontak antara dia dengan dirinya, lalu ia akan men-dapat curahan dari bagian yang didapat orang tersebut dari Allah Ta'ala."
Mereka menyamakan hal itu dengan orang yang mengabdi kepada se-orang yang memiliki kedudukan dan pangkat dari kalangan penguasa.(5) Orang itu tentu sangat bergantung dengan tuannya. Dan apa yang didapatnya dari tuannya tersebut dari berbagai bentuk pemberian dan fasilitas adalah sesuai dengan seberapa kuat ketergantungan orang tersebut kepada tuannya.
Dan itulah rahasia penyembahan berhala-berhala. Lalu Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya yang memerintahkan agar semua itu dihancurkan, agar para pengikutnya dikafirkan dan dilaknat, dihalalkan darah dan hartanya, dan ditawan para perempuan dan anak-anak mereka, serta mereka pasti dimasukkan ke dalam neraka.
Dan Al-Qur'an, sejak awal hingga akhirnya menolak para penyembah berhala dan membatalkan madzhab mereka.
Allah befirman,
"Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah. Katakan-lah, 'Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu Pun dan tidak berakal?' Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi'." (Az-Zumar. 43-44).
Allah mengabarkan bahwa syafa'at itu hanya miliki Dzat yang memiliki langit dan bumi, yaitu Allah semata. Dialah yang memberi syafa'at dengan Diri-Nya kepada Diri-Nya, sehingga Dia mengasihi hamba-Nya dan la memberi izin kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk memberi syafa'at. Karena, pada hakikatnya syafa'at adalah milik-Nya, sedangkan orang yang memberi syafa'at di sisi-Nya adalah yang telah mendapatkan izin dan perintah dari-Nya, setelah la memberi syafa'at kepada Diri-Nya, yaitu kehendak dari Diri-Nya untuk mengasihi hamba-Nya.
Ini tentu berlawanan dengan syafa'at syirkiyah (yang mengandung syirik) yang ditetapkan oleh orang-orang musyrik dan mereka yang menyetujuinya. Syafa'at itulah yang dibatalkan Allah dalam Kitab-Nya, dengan firman-Nya,
"Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat suatu syafa'at kepadanya." (Al-Baqarah: 123).
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual-beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at." (Al-Baqarah: 254).
"Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa." (Al-An'am: 51).
"Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at." (As-Sajdah: 4).
Allah mengabarkan bahwa manusia tidak bisa memberikan syafa'at dari selain-Nya. Tetapi jika Allah menghendaki rahmat bagi hamba-Nya, maka Dia mengizinkan kepada orang yang memberinya syafa'at. Hal itu sebagaimana firman Allah,
"Tidak seorang pun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya." (Yunus: 3).
"Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya." (Al-Baqarah: 255).
Jadi, syafa'at itu diberikan dengan izin-Nya, dan syafa'at itu bukan dari selain-Nya, juga seorang yang memberi syafa'at tidak memberikannya dengan izin dari selain-Nya, tetapi ia memberi syafa'at dengan izin-Nya. Dan perbedaan antara dua orang yang memberi syafa'at itu adalah sama dengan perbedaan antara sekutu dan hamba yang diperintah.
Adapun syafa'at yang dibatalkan Allah adalah syafa'at sekutu, karena Allah tidak memiliki sekutu. Sedangkan syafa'at yang ditetapkan Allah adalah syafa'at hamba yang diperintah, yaitu yang tidak memberi syafa'at dan tidak lancang di hadapan Penguasa-Nya kecuali setelah Dia mengizinkannya seraya befirman, "Berilah syafa'at kepada si Fulan." Karena itu, orang yang paling berbahagia dengan syafa'at penghulu dari orang-orang yang memberi syafa'at pada Hari Kiamat adalah para ahli tauhid, yaitu mereka yang memurnikan tauhid dan membebaskannya dari ke-tergantungan terhadap syirik dan berbagai kotorannya, mereka itulah orang-orang yang diridhai Allah Ta'ala.
Allah befirman,
"Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah." (Al-Anbiya': 28).
"Pada hari itu tidak berguna syafa'at kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya dan Dia telah meridhai perkataannya." (Thaha: 109).
Allah mengabarkan bahwa pada hari itu tidak akan ada syafa'at yang bermanfaat kecuali setelah Allah meridhai perkataan orang yang diberi syafa'at, dan setelah Allah memberikan izin kepada orang yang memberi syafa'at. Adapun orang musyrik, maka Allah tidak meridhainya, dan tidak meridhai perkataannya, karena itu Allah tidak mengizinkan kepada orang-orang untuk memberi syafa'at kepadanya, sebab Allah menggantungkan syafa'at tersebut dengan dua perkara; yakni keridhaan-Nya terhadap orang yang diberi syafa'at dan izin-Nya terhadap orang yang memberi syafa'at. Jika kedua hal tersebut tidak terkumpul, maka sya-fa'at itu tidak akan pernah terjadi.
Rahasia hal di atas adalah bahwa segala urusan adalah milik Allah semata, tidak seorang pun yang mengurusi suatu urusan bersama-Nya. Sedangkan makhluk yang paling tinggi, utama dan mulia di sisi-Nya adalah para rasul dan malaikat terdekat, dan mereka semua adalah ham-ba semata, mereka tidak mendahului perkataan-Nya, tidak pula lancang di hadapan-Nya. Mereka tidak melakukan sesuatu kecuali setelah men-dapatkan izin dan perintah-Nya. Apalagi pada hari yang sedikit pun seseorang tak lagi bisa menolong orang lain, sebab mereka adalah orang-orang yang dikuasai dan diatur, tindakan mereka terikat dengan perintah dan izin-Nya.
Maka, jika seorang musyrik menyekutukan mereka de-ngan-Nya, dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafa'at selain Allah, dan ia mengira bahwa jika ia lakukan hal itu mereka akan memberi syafa'at di sisi Allah, maka dia adalah sebodoh-bodoh orang tentang hak Allah dan tentang apa yang wajib bagi-Nya serta apa yang tertolak di sisi-Nya. Sungguh hal semacam ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Hal itu sama dengan menyerupakan Tuhan dengan para raja dan penguasa, di mana mereka mengangkat orang-orang yang loyal kepada mereka sehingga memberi syafa'at (sebagai perantara) terhadap berbagai keperluan rakyatnya. Dan dengan kias yang batil seperti inilah sehingga patung-patung disembah dan orang-orang musyrik menjadikan penolong dan wali selain Allah.
Dan perbedaan antara keduanya adalah perbedaan antara makhluk dengan Al-Khalik (Maha Pencipta), antara Rabb (Maha Pengatur) dengan marbub (yang diatur), antara tuan dengan hamba, antara raja dengan rakyat jelata, antara si kaya dengan si miskin dan antara Dzat yang sama sekali tidak membutuhkan kepada seseorang dengan orang yang membutuhkan kepada yang lain dalam segala hal.
Para pemberi syafa'at di kalangan makhluk adalah berarti sekutu-sekutu mereka. Sebab terwujudnya maslahat rakyat adalah karena mereka, sedang mereka (para pemberi syafa'at yang berarti para perantara) adalah para penolong dan pembantu mereka. Dan seandainya urusan para raja dan para penguasa itu tidak dibantu mereka tentu lidah dan tangan para penguasa dan raja itu tidak akan sampai kepada rakyat. Dan karena kebutuhan mereka kepada para pemberi syafa'at itu, sehingga mau tidak mau mereka harus menerima syafa'at tersebut, meskipun mereka tidak mengizinkan dan merelakan orang yang memberi syafa'at.
Adapun Dzat Yang Mahakaya, yang kekayaan merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari Dzat-Nya, dan semua yang selain-Nya membutuhkan kepada Dzat-Nya, dan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi adalah hamba-Nya, dipaksa dengan kekuasaan-Nya dan diatur de-ngan kehendak-Nya. Bahkan seandainya Dia menghancurkan mereka semua, maka tidak berkurang sedikit pun keagungan, kekuasaan, kerajaan, Rububiyah dan Ilahiyah-Nya. Allah befirman,
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.'Katakanlah, 'Maka siapa-kah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?' Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Mai'dah: 17).
Dan dalam ayat Kursi, penghulu dari segenap ayat-ayat Al-Qur'an (sayyidah ayil Qur'an)'(6) Allah befirman,
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya." (Al-Baqarah: 255).
"Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi'." (Az-Zumar: 44).
Allah mengabarkan, keadaan kerajaan-Nya di langit dan di bumi mewajibkan semua syafa'at itu milik-Nya semata, dan bahwa tak seorang pun memberi syafa'at kecuali dengan izin-Nya, tetapi ia bukanlah sekutu, ia hanyalah hamba semata, dan ini tentu berbeda dengan syafa'at sebagian manusia kepada sebagian yang lain.
Maka jelaslah, syafa'at yang dinafikan Allah di dalam Al-Qur'an adalah syafa'at yang mengandung syirik, yang telah diketahui manusia, dan yang mereka lakukan satu sama lain. Karena itu, jenis syafa'at ini ter-kadang ditiadakan secara mutlak, sebab ia telah diketahui umum, dan terkadang pula secara bersyarat, yakni ia tidak bermanfaat kecuali sete-lah mendapatkan izin-Nya.
Dan syafa'at ini pada hakikatnya adalah dari Diri-Nya, sebab Dia lah yang mengizinkan, yang menerima dan yang meridhai orang yang diberi syafa'at, juga yang memberi taufiq orang tersebut untuk melakukan perbuatan dan ucapan yang berhak mendapatkan syafa'at.
Jadi, orang yang mengambil pemberi syafa'at (selain Allah) adalah musyrik, syafa'atnya tidak berguna, dan ia tidak diberi syafa'at karena-nya. Adapun orang yang menjadikan Allah semata sebagai Tuhan, sesembahan, yang dicintai, yang diharapkan, yang ditakuti, yang hanya kepada-Nya ia mendekatkan diri, meminta ridha-Nya dan menjauhkan dari kemurkaan-Nya, maka orang seperti itulah yang Allah izinkan mendapatkan syafa'at dari orang yang memberi syafa'at.
Allah befirman,
"Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah. Katakanlah, Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?'Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya'." (Az-Zumar: 43-44).
"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami disisi Allah.'Katakanlah, 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, baik di langit dan tidak (pula) dibumi?' Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)." (Yunus: 18).
Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang mengambil pemberi syafa'at (selain Allah) adalah musyrik, dan bahwa syafa'at itu tidak bisa didapatkan dengan mengambil mereka sebagai pemberi syafa'at, tetapi ia didapatkan dengan izin-Nya kepada orang yang memberi syafa'at, dan keridhaan-Nya kepada orang yang diberi syafa'at.
Barangsiapa yang diberi taufiq oleh Allah untuk memahami dan mengetahui tema ini, niscaya akan jelaslah baginya hakikat tauhid dan syirik, serta perbedaan antara syafa'at yang ditetapkan Allah dan yang dinafikan serta yang dibatalkan-Nya.
"Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun." (An-Nuur: 40).
Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,
Penerjemah: Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Lc.;
Judul Asli: Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi
Sunday, August 8, 2010
Solat Isyra'

Jabir bin Samurah (RA) berkata, “Setelah solah subuh, biasanya Rasulullah (SAW) tetap duduk di tempat solahnya sehingga setelah matahari naik.” ( Sunan an-Nasai)
Ada juga diriwayatkan bahawa pahala duduk di tempat solah sehingga naik matahari adalah menyamai pahala jihad. Duduk di tempat solah sehingga naik matahari juga adalah satu jihad iaitu jihad melawan nafsu.
Selepas naik matahari, disunatkan pula Sembahyang Isyra’. Waktu Sembahyang Sunat Isyra’ ialah sekitar 15-20 minit selepas masuk waktu Syuruk. Pahalanya dikatakan menyamai pahala haji dan umrah, 3 kali diulangi oleh Baginda.
Wednesday, July 28, 2010
Lepaskan diri dari Cinta Dunia
Rasulullah yang mulia adalah contoh seorang pemimpin yang sangat dicintai umatnya; seorang suami yang menjadi kebanggaan keluarganya; pengusaha yang dititipi dunia tapi tak diperbudak oleh dunia karena beliau adalah orang yang sangat terpelihara hatinya dari silaunya dunia. Tidak ada cinta terhadap dunia kecuali cinta terhadap Allah. Kalaupun ada cinta pada dunia, hakikatnya itu adalah cinta karena Allah. Inilah salah satu rahasia sukses Rasulullah.
Apa yang dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadiid [57]:20)
Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah. Misalnya, salat, saum atau sedekah, tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah.
Sebaliknya, orang yang sibuk siang malam mencari uang untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslahatan umat -- bukan untuk kepentingan pribadi -- bukan untuk kepentingan pribadi terhadap Allah, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya, segala sesuatu yang membuat kita taat kepada Allah, maka hal itu bukanlah urusan dunia.
Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capek memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.
Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Oleh sebab itu, pencinta dunia itu tidak pernah merasa bahagia.
Rasulullah yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tetapi semua itu tidak pernah sampai mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah terpikir untuk berbuat aniaya.
Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah semata. Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, semakin tua, dan akhirnya mati. Kemudian terlahir manusia berikutnya, begitu seterusnya.
Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinan bahwa semuanya titipan Allah dan total milik-Nya, ia tidak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Sebaliknya, ia akan selalu siap titipannya diambil oleh Pemiliknya, karena segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah keberadaan atau tiadanya "dunia" ini meracuni hati kita. Jika memiliki harta dunia, jangan sampai sombong, dan jika tidak adanya pun, tidak perlu minder.
Kita harus meyakini bahwa siapa pun yang tidak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya. Mengapa? Sumber segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Wallahu a'lam.
Thursday, July 22, 2010
Sedekah Terbaik Adalah di Saat Senang

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah: Sedekah bagaimanakah yang mendapat pahala yang besar?
Rasulullah menjawab: Sedekah disaat kamu sihat atau senang.
kerana sedekah disaat susah tidak ikhlas
kerana sedekah disaat tersebut kamu bersedekah
kerana takutkan kefakiran dan berharapkan kekayaan.
Janganlah kamu bersedekah disaat nyawa dihalkum.
Tidak berguna lagi kamu mewasiat untuk si fulan sebanyak ini dan untuk si fulan pula sebanyak ini.
Wednesday, July 14, 2010
Gunanya Kesusahan dan Kesukaran

Lihatlah kacang yang direbus dalam periuk. Kacang itu naik ke atas seolah-olah melompat apabila air periuk itu panas mendidih. Seolah-olah kacang itu berkata;
"Kenapa kau rebus aku?. Kamu beli aku, kemudian kamu siksa aku dalam periuk ini.....kenapa?".
Si suri rumah terus memukul dengan senduknya, lalu berkata;
- Mula-mulanya engkau di bumi, wahai kacang!!!
- Kemudian engkau dimakan.
- Engkau dicerna oleh orang yang memakan engkau, lalu engkau menjadi tenaga - satu unsur kejiwaan.
- Keadaan tumbuh-tumbuhan engkau hilang dan engkau masuk ke kehidupan kemanusiaan atau kebinatangan dan menyerap dalam hidup mereka.
- Akhirnya kembali ke dalam Sifat-Sifat Allah.
- Engkau lahir dari Sifat-Sifat Allah dan kembali ke dalam Sifat-Sifat Allah.
Oleh itu benarlah kata-kata Sufi yang Syahid, al-Hallaj yang mengatakan;
"Bunuhlah aku wahai sahabat!!!.
Dengan mati itu akan akan hidup yang lebih baik".
Hidup baru mengganti hidup yang sekarang ini; dan hidup itu adalah lebih baik dan lebih indah dari hidup yang sekarang.
"Oleh itu, maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan, (Sekali lagi ditegaskan): bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan." (Asy-Syar-h; 5,6)
Tuesday, July 13, 2010
Tanda Tanda Saat Kematian
100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.
60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.
7 hari : Mengidam makanan.
5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.
3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh and asar.
Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan).
Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan lagi bercakap-cakap.
******Bila Malaikat Mencabut Nyawa******
Baginda Rasullullah S.A.W bersabda:
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:
"Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."
Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut.Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata:
"Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T."
Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu
Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:
"Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu.
Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."
Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata:
"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."
Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata:
"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."
Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata:
"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah."
Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T.
Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A:"Roh itu menuju ketujuh tempat:-
1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya sampai hari Kiamat."
Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.
www.pekanrabu.com
Tanda-tanda nazak dan Amalan Sunat

1.1 Tapak kakinya lurus
1.2 Hidungnya tunduk pucat tidak berpeluh
1.3 Sendi pergelangan tangan renggang
1.4 Keningnya luas tergonggong biji mata
1.5 Lidah kelu dan tertutup selera
1.6 Tidak mengecam sahabat-sahabat atau keluarga dengan penglihatan (kabur penglihatan)
1.7 Perubahan tabiat
1.8 Terlalu dahaga sentiasa minta air
1.9 Meminta sesuatu yang ganjil
2.0 Mata selalu tenung ke atas
2.1 Tidak ada timbal balik pernafasan.
Apabila terdapat beberapa tanda-tanda tersebut adalah disunat melakukan :
Sabda Nabi s.a.w. maksudnya :
"Ajarkanlah orang yang hampir mati itu La ilaha illallah."
2.2 Membaca Surah Yaasin
Sabda Nabi s.a.w. maksudnya :
"Kamu bacakanlah Yaasin kepada orang yang hampir mati."
2.3 Titik air ke dalam mulutnya
Iblis datang mengganggu ketika Sakratul Maut

Yang bermaksud: “Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan syaitan di waktu maut.”
Rombongan 1
Akan datang Iblis dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat-lazat. Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Iblis itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 2
Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 3
Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan Kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan Kuda lumba (judi). Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.
Rombongan 4
Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya
Rombongan 5
Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan rayu-merayu “Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.” Maka dia pun sudi mengikut pelawaan itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal ia di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.
Rombongan 6
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulamak-ulamak yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu.” Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali. Lalu datanglah pula Iblis yang menyerupai ulamak dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?” Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.” Berkata ulamak Iblis: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulamak yang tinggi dan hebat, baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi.
Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami.” Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis bagi tujuan mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulamak palsu: “Bagaimanakah Zat Allah?” Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena. Lalu berkata ulamak palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu.” Apabila tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.
Rombongan 7
Rombongan Iblis yang ketujuh ini Iblis terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat. Ketahuilah bahawa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlain di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut. Bersesuaian dengan sebuah hadith yang bermaksud: “Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”
jaipk.perak.gov.my

